Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA) | BIA #24

PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk. , emiten dg kode saham AISA adalah salah satu perusahaan Consumer Goods yg tengah naik daun, bagaimana analisis Saham Fundamental AISA dan outlook Tiga Pilar Sejahtera Food kedepannya?

Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA) merupakan salah satu dari sedikit perusahaan Indonesia yang mampu bertahan selama lebih dari 50 tahun. ‘Benih’ Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA) didirikan pada tahun 1959 oleh Tan Pia Sioe. Pada awalnya, ‘benih’ Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA) hanya membuat bihun jagung di Sukoharjo, Jawa Tengah, dengan merk ‘Cap Cangak Ular’. Pada tahun 1978, Tan Pia Sioe wafat, dan usahanya diteruskan oleh putranya, Priyo Hadi Susanto. Pada Tahun 1992, PT Tiga Pilar Sejahtera (TPS) secara resmi didirikan, dan tampuk pimpinan perusahaan diserahkan kepada Cucu Tan Pia Sioe, yakni Stefanus Joko Mogoginta, Dirut Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA) sekarang..

Pada awalnya, AISA hanya berfokus pada bisnis Bihun kering dan baru pada tahun 2001 lah, AISA masuk bisnis mie kering.Sejak tahun 2003, Bisnis Mie kering AISA makin mantap setelah mengakuisisi PT Asia Inti Selera Tbk (AISA), sebuah perusahaan produsen mie kering yang dulu pernah terkenal dengan merk ‘Ayam 2 Telor’nya. Akuisisi ini pula yang membuat Tiga Pilar Sejahtera melakukan backdoor listing dan mulai tercacat di Bursa..

Setelah beberapa tahun tanpa aksi berarti, Pada tahun 2008, Tiga Pilar Sejahtera Food (AISA) mulai Melakukan beberapa akuisisi diluar bisnis Mie. TPSF mengakuisisi BumiRaya Investindo / BRI (yang di tahun 2014 direncanakan akan IPO), sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit yang terletak di Kalimantan Selatan. Di tahun 2008 pula, AISA melakukan akuisisi terhadap PMI yang bergerak di bidang makanan manis, biskuit dan snack..

Selanjutnya, pada tahun 2010 TPSF / AISA memasuki Industri Beras melalui pembentukan Distributor JV dan mengakuisisi Pabrik Beras Jatisari Srirejeki. Pada tahun itu juga, TPSF mengakuisisi 5 Perusahaan Perkebunan kelapa sawit baru dan memulai pembangunan Pabrik CPO..

Aksi AISA tidak berhenti disana, pada tahun 2011 TPSF mengakuisisi pabrik beras dan merek beras milik PT Alam Makmur Sembada yang mempunyai kapasitas produksi 500 ton gabah kering/hari. Di tahun itu pula, TPSFmelalui PT Balaraja Bisco Paloma (BBP) mengakuisisi fasilitas produksi biskuit diBalaraja, Tangerang. Selanjutnya, TPSF juga mengakuisisi merek ‘TARO’ beserta fasilitas produksinya dari PT Unilever Indonesia, Tbk..

Pada tahun 2012, AISA mengakuisisi PT Subafood Pangan Jaya, sebuah produsen biskuit, pabrik beras PT Sukses Abadi Karya Inti dan akuisisi Perusahaan perkebunan sawit PT Tandan Abadi..

Jadi, dalam waktu 5 tahun, AISA mengakuisisi beberapa perusahaan diluar bisnis mie dan membuat beberapa divisi usaha yakni TPS food dalam bisnis makanan, TPS rice dalam bisnis beras, danTPS Palm Oil dalam bisnis Kelapa sawit..

Pertanyaannya, apakah berbagai Akuisisi yang telah dilakukan AISA apakah sudah membuahkan hasil?

Well, beberapa akuisisi yang dilakukan AISA sejak tahun 2008 agaknya sudah mencapai perkembangan yang cukup berarti terutama dalam hal nilai penjualan dan laba bersih..

Dengan membukukan Pendapatan Bersih sebesar 2,75 Triliun Rupiah pada tahun 2012, AISA mencetak pertumbuhan pendapatan sekitar 57% dibandingkan tahun 2011 sebesar 1,75 Triliun Rupiah. Di Tahun 2012 Perseroan berhasil meningkatkan laba bersih sekitar 66% atau menjadi 211 Miliar Rupiah, melejit dibandingkan tahun 2011 yang hanya sebesar 126,9 Miliar Rupiah.

Tidak seperti yang dibayangkan banyak orang, ternyata bisnis beras yang dijalani AISA merupakan bisnis yang cukup menguntungkan, bahkan margin bersihnya yang terbesar dibandingkan bisnis yang lain termasuk bisnis Makanan!

Margin cukup besar yang diraih AISA dalam bisnis beras, berasal dari kecerdikan AISA untuk masuk ke pasar beras kalangan menengah atas dengan merek sendiri, jadi bukan bermain di beras eceran yang murah. Di bisnis beras kemasan ini, AISA merupakan produsen Beras swasta terbesar di Indonesia saat ini..

Dengan bermodalkan beberapa merek beras terkenal, diantaranya, Ayam Jago, Istana Bangkok, Vitarice dan Nona Holland, Pada tahun 2012, penjualan produk beras mengalami peningkatan secara signifikan sebesar 123,2 % hingga mengungguli total penjualan produk makanan dengan menyumbang kontribusi penjualan sebesar Rp 1.620,3 miliar dan laba bersih sebesar 47% dari total laba bersih AISA..

Penyumbang Laba bersih terbesar kedua adalah divisi TPS Food. Produk makanan TPS Food dapat dikelompokan dalam dua jenis kelompok makanan, yaitu makanan bahan dasar (Basic Food) yang dijalankan oleh PT Tiga Pilar Sejahtera (TPS) dan PT Subafood Pangan Jaya (SPJ), dan makanan siap konsumsi (Consumer Food) yang dijalankan oleh PT Poly Meditra Indonesia (PMI), PT Balaraja Bisco Palma (BPP) dan PT Putra Taro Paloma (PTP)..

Saat ini, Perseroan telah menjadi pemimpin pasar dibidang bihun kering dan mie kering di Indonesia. Hingga akhir 2012 lalu, Perseroan telah menambah market share-nya menjadi sebesar
28% dari tambahan market share PT Subafood Pangan Jaya yang baru diakuisisi sebesar 5%..

Beberapa Merek Mie Kering dan Bihun Kering AISA, diantaranya Superior, Ayam 2 Telor, Filtra, Kurma, Spider, New Bossmi, Superior (Putri Jagung), Superior (Yumi),Superior (Raja), Tanam Jagung, Pilihan bunda, Panen Jagung. Sedangkan Merek makanan siap konsumsi TPS food/AISA diantaranya Mie instan ‘ Hahamie’, Bihun Instan ‘ Bihunku’, Biskuit ‘Growie’, Permen ‘Gulas’& ‘Gulas Plus’ ,Mie Snacks ‘Mie Kremezz’ &‘Shorr’, Snacks ‘TARO’, Wafer ‘Pro’..

Dari merek mie dan bihun kering diatas, hanya ‘ayam 2 telor’ yang kami tau, itupun karena dahulu sering muncul iklannya di TV, sedangkan untuk makanan siap konsumsi, hanya merk Gulas, Taro dan Mie Kremezz yang kami kenal..

Dari kenyataan ini, agak sulit kiranya bagi produk TPS Food untuk menyaingi hegemoni Indofood, OrangTua Group, apalagi Unilever. Tentunya hal ini berhubungan juga dengan margin keuntungan TPS Food yang tidak bisa sebesar ICBP dll karena memang merknya kurang terkenal, sehingga harus bersaing dengan harga, yang tentu menurunkan margin keuntungan AISA..

Selain itu, kita harus ingat bahwa Produk Basic food (Mie kering dan Bihun) dari AISA yang memberikan kontribusi sebesar 47,1% dari total penjualan pada Divisi Makanan sebagian besar dibei oleh pedagang mie dan katering, sehingga walaupun merupakan penguasa pasar mie dan bihun kering, AISA tentu tidak terlalu bebas menaikkan harga seperti ICBP, karena pedagang mie dan catering bisa saja mengganti mie nya dengan mie kering jenis lain yang siap memberikan keuntungan lebih tinggi bila AISA menaikkan harga jualnya terlalu tinggi..

Untungnya, pada tahun 2012, TPS Food mengalami Peningkatan penjualan sebesar 14,2% menjadi Rp 1.080,9 miliar dengan proporsi Penjualan Makanan Dasar sebesar 47,1% dan Penjualan Makanan Konsumsi sebesar 52,9%. Makanan dasar yang terdiri dari produk Mie kering dan Bihun mengalami peningkatan penjualan sebesar 31,2% di tahun 2012..

Kinerja TPS Food terbantu Akuisisi merek TARO dari UNVR pada akhir tahun 2011 telah membantu menghasilkan pertumbuhan dan kinerja yang luar biasa dengan memberikan kontribusi pendapatan hingga 25% dari total penjualan TPS Food. Dan pada tahun 2012 nilai pendapatan dari TARO sendiri sebesar Rp 279 miliar melebihi nilaiakuisisi TARO yang sebesar Rp 250 miliar..

Diantara ketiga divisi usaha AISA, divisi TPS Palm Oil lah yang mempunyai kinerja terburuk di tahun 2012. Laba bersih divisi TPS Palm Oil selama 2012 hanya sebesar rp.8 Milyar, bahkan mencatatkan rugi operasional 6 Milyar. Hal ini tentu memprihatinkan, mengingat lebih dari rp.1 Trilyun sudah dikeluarkan AISA untuk akuisisi dan pengembangan TPS Palm Oil..

Dari sisi keuangan, kami dapatkan Goodwill yang sangat besar akibat beberapa proses akuisisi sebesar rp.350 Milyar atau 9,2% dari total asset dan lebih besar dibandingkan saldo laba per 31 desember 2012 yang sebesar Rp.300 Milyar. Goodwill yang besar ini merupakan ciri khas perusahaan yang gemar melakukan akuisisi..

Selain Goodwill yang besar, ada pula hal yang menarik dimana tidak seperti emiten consumer goods biasanya, Saldo laba AISA hanya mencapai sekitar 15% dari total ekuitas. Padahal, baru pada tahun 2012 inilah AISA membagikan deviden. Hal ini menunjukkan bahwa AISA di masa lalu hanya mempunyai laba yang kecil serta sering melakukan Right Issue maupun Konversi obligasinya, dua hal yang sangat dibenci investor minoritas..

Hal yang ironis terletak pada laba bersih per saham pada tahun 2012 yang berjumlah rp.72, nilainya malah turun dibandingkan tahun 2011 yang sebesar rp.74.hal ini diakibatkan karena dilusi jumlah saham beredar akibat pelaksanaan Right Issue..

Rasio Hutang terhadap Ekuitas pada tahun 2012 masih wajar yakni sebesar 0,72 kali. Operating cashflow AISA selama tahun 2012 juga baik dengan mencatatkan Kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi naik menjadi Rp 109,3 miliar di tahun 2012, dibandingkan Rp 29,7 miliar di tahun 2011..

Dari sisi manajemen, Kami menilai manajemen AISA merupakan pebisnis yang hebat dimana bisa meningkatkan omset sedemikian cepat tanpa membahayakan posisi neraca perseroan. Namun, perlu dicatat bahwa kebiasaan AISA untuk Right Issue dan mengkonversi hutang obligasinya menjadi saham (Analisis kami atas manajemen AISA, pernah kami bahas disini), akan sangat merugikan pemegang saham minoritas terlepas dari prestasi dan kenaikan laba yang diraih perseroan di masa depan..

Melihat apa yang telah dilakukan manajemen sejak tahun 2008, agaknya kedepan AISA akan makin meluaskan bisnisnya ke bisnis lain yang manajemen perseroan anggap menarik (seperti bisnis susu yang akan digarap AISA di awal 2014). Namun, alangkah baiknya seorang investor mewaspadai langkah funding yang dilakukan AISA, karena sejarah sering kali berulang.. 😀

PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk. (AISA) 2012

Rating Kinerja Bisnis : B

Rating Keuangan : B

Kinerja Manajemen : D

 

@AnalisisSaham

Tagged: , , , , , , , , ,

Leave a Reply