Suku Bunga Rendah : Efek Bencananya – BIA #98

Bila anda sering membaca berita tentang ekonomi dunia terutama Amerika Serikat atau memfollow twitternya Presiden US Donald Trump, maka anda pasti tau kalo donald Trump ingin agar FED – Bank Indonesianya Amerika Serikat- menurunkan suku bunga FED Rate sampai 0 , atau bahkan sampai minus..

Untuk apa Donald Trump menginginkannya?

Trump ingin Perekonomian Amerika serikat, tumbuh lebih besar dari tingkat pertumbuhannya yang sekarang sehingga terhindar dari krisis ekonomi akibat perang dagang yang ia ciptakan..

Mungkin bagi anda yang tidak kuliah di jurusan ekonomi akan timbul pertanyaan, Lantas kenapa BI tidak menurunkan suku bunga BI rate menjadi 0 aja kalo memang bisa menstimulus perekonomian?

Karena kita hidup di dunia -bukan di surga- maka Seperti semua hal lain yang baik, suku bunga rendah pun, menyimpan kelemahan..

Bila suku bunga rendah diterapkan dalam jangka panjang, maka efek stimulus yang terjadi bisa berlebihan dan mengakibatkan bencana besar..

Seperti yang kita jelaskan dalam efek positif suku bunga rendah kemarin, penerapan suku bunga rendah bisa menyebabkan konsumsi meningkat karena jumlah uang yang dibelanjakan meningkat. Nah, tingkat konsumsi yang meningkat drastis, bisa membuat demand atau permintaan melebihi jumlah penawaran. Sesuai dengan hukum ekonomi, Bila jumlah permintaan meningkat dan jumlah penawaran tetap maka harga akan naik..

Kebijakan suku bunga rendah yang dilakukan bertahun-tahun, bisa membuat harga naik terus menerus. Kenaikan harga yang tinggi, bisa menyebabkan makin banyak orang ingin ikut merasakan kenaikan harga itu dengan ikut-ikutan membeli, walau harga sudah naik tinggi..

Harga yang sudah tinggi, bisa terus naik dan naik lagi, bila suku bunga tetap rendah, karena orang walaupun tidak punya duit, bisa berhutang. Pikirnya, toh suku bunga rendah, jadi besaran bunga cicilannya kecil..

Bila banyak orang berpikir seperti diatas, maka harga akan naik terus sampai terjadi bubble atau gelembung ekonomi..

Saat puncak gelembung ini, maka orang-orang yang membeli di harga bawah akan menjadi merasa sangat kaya, sangat pede dan sangat cerdas..

Tapi tentu saja, semua pesta, seasik apapun jalannya, pasti harus berakhir..

Dan gelembung atau bubble ekonomi itu pasti meletus..

Proses pecahnya Ekonomi biasanya sama seperti proses pembentukan bubble ekonomi dengan arah yang berbeda..

Harga-harga yang sudah mencapai langit, protes banyak orang -yang tidak mendapat durian runtuh dan cipratan uang dari bubble- akan tidak terjangkaunya harga barang yang mereka butuhkan, akan membuat Bank central dan pemerintah membuat kebijakan untuk mengerem Inflasi atau kenaikan harga. Dan Bank Central pun mulai menaikkan tingkat suku bunga..

Kenaikan tingkat suku bunga, membuat spekulan menjadi takut untuk membeli dengan hutang berbunga, akibatnya harga menjadi tidak bisa naik tinggi alias datar..

Harga yang tidak lagi naik tinggi, memadamkan keinginan spekulan lain untuk melakukan pembelian. Akibatnya harga menjadi stagnan..

Harga yang stagnan, membuat orang-orang yang dulu membeli banyak dengan harga mahal, mulai takut dan khawatir, kenapa harga tidak juga naik..

Kekhawatiran itu semakin membuncah, setelah cicilan hutangnya semakin membesar akibat bank central yang secara bertahap menaikkan suku bunga untuk mengendalikan harga..

Karena tidak kuat lagi menanggung kenaikan besaran bunga hutang, maka orang yang membeli dipuncak harga mulai menjual barangnya. Dan bila penjualan ini dilakukan oleh banyak orang secara bersamaan maka akan mengkibatkan harga turun, karena penawaran yang lebih besar daripada permintaan..

Penurunan harga yang masih awal ini, akan membuat orang-orang yang membeli di puncak makin deras menjual barangnya, yang akan membuat harga semakin turun kebawah..

Penurunan harga ini, akan membuat bank dan lembaga keuangan yang meminjamkan uang, menilai ulang nilai agunan. Hal ini bisa berakibat pada makin besarnya besaran bunga yang harus dibayar oleh mereka yang membeli barang dengan uang pinjaman..

Efek berantainya, makin banyak orang yang menilai dirinya tidak sanggup lagi membayar cicilan yang semakin membesar seperti ini dan mulai melakukan penjualan..

Akibatnya harga makin turun, bahkan sampai kedasar akibat efek berantai diatas..

Harga yang anjlok ini dan efek berantainya, akan membuat banyak orang bangkrut, bahkan kehilangan segalanya..

Skenario di ataslah yang terjadi pada pasar properti amerika pada awal tahun 2000an sampai meletus di 2008, yang mencetuskan great recession di amerika serikat dan seluruh dunia..

Dengan efek bencana dahsyat seperti ini, masihkan anda ingin suku bunga diturunkan sampai 0?

@dr.BramIrfanda

Untuk menerima update GRATIS The Bram Irfanda Analysis, mohon klik subscribe atau mohon masukkan email anda ke form email dibawah ini

The Bram Irfanda Analysis sekarang ada di Youtube, Podcast, Twitter, Facebook dan Telegram untuk berlangganan silakan klik di link masing-masing Social media diatas

Subscribe to Blog via Email

GRATIS! utk berlangganan gratis, Masukkan email anda di form dibawah ini, lalu klik link konfirmasi berlangganan yang kami kirim ke email anda

Tagged: , , , , ,

Comments: 2

  1. Rudi October 6, 2019 at 7:37 pm Reply

    Suku bunga rendah belum tentu membuat harga- harga barang menjadi naik ( inflasi ). Contohnya, Jepang. Suku bunga Jepang sejak tahun 2016 -0,1%. Tapi, inflasi Jepang sejak tahun 2016, tidak pernah mencapai 2%. https://tradingeconomics.com/japan/inflation-cpi

    • @dr_BramIrfanda November 7, 2019 at 1:59 pm Reply

      kenapa angka inflasi di jepang rendah? krn di jepang semua sudah mahal/bubble..
      ini akibat bubble aset di di jepang tahun 1980an, yg berakibat pada deflasi yg berkepanjangan..
      deflasi yg terjadi di jepang wajar terjadi krn harga2 di awal 1980an memang diluar batas kewajaran..

Leave a Reply