Menemukan tambang Emas di Saham GWSA? | BIA #57

Bila kita sekilas melihat Neraca dan laporan laba rugi PT Greenwood Sejahtera Tbk. , GWSA, tahun 2015, kita akan menemukan saham GWSA mempunyai PBV 0,17, dan PER 0,86, dengan Laba bersih 2015 sebesar rp.1,263 Trilyun! LUAR BIASA MURAH!

Sayangnya, setelah gembira sejenak karena merasa menemukan tambang emas, ternyata hamparan tanah ini berisi benda seperti emas, tapi bukanlah emas. Begitulah yang saya rasakan bila kita menelisik GWSA lebih dalam..

GWSA adalah perusahaan properti kecil yang berdiri sejak tahun 1990. Ultimate shareholder dari GWSA saat ini adalah seorang pengusaha bernama Harry Gunawan Ho.

Harry Gunawan Ho pada awalnya adalah pengusaha manufaktur dan trading yang sejak 2003 beralih ke dunia properti. Pada awalnya pak Harry bekerjasama dalam beberapa proyek properti dengan Agung Podomoro Group nya Trihatma Haliman. Lalu di tahun 2008, diakuisisilah GWSA dan jadilah GWSA sebagai holding company bagi perusahaan properti Harry Gunawan Ho.

Beberapa Proyek properti yang dimiliki GWSA dg kepemilikan mayoritas, diantaranya TCC 1, TCC 2, Proyek JORR, Proyek SBY2, Capital square surabaya, holiday Inn Express, The peak apartment.
Proyek-proyek yang bekerjasama dengan Agung Podomoro Group dan GWSA hanya mempunyai kepemilikan minoritas, diantaranya Kuningan City (Jaksel), Senayan City (Jaksel), Festival Citylink (Bandung), Lindeteves Trade Center (Jakarta Pusat), dan Emporium Pluit Mall (Jakut)

GWSA tercatat memiliki 7 proyek dengan kepemilikan mayoritas, yang berarti ketujuh proyek tadi bisa dimasukkan laporan keuangan GWSA. Sayangnya, sampai saat ini baru 3 dari 7 proyek tadi yang sudah bisa menghasilkan uang bagi GWSA, diantaranya : TCC 1, holiday Inn Express, The peak apartment. Akibatnya, GWSA hanya pencatatkan pendapatan 83 Milyar di sepanjang tahun 2015 dan 91,9 MIlyar di Q2 2016..

Lantas, bagaimana bisa GWSA di 2015 bisa mencatat keuntungan bersih rp.1,263 Trilyun?

Ternyata keuntungan bersih yang besar ini, bersumber dari 1 hal : AKUNTANSI

Kenaikan laba bersih GWSA yang tinggi di tahun 2015 itu diperoleh lewat Revaluasi aset. Hitung-hitungan anak SD bisa menggambarkan keadaan riil GWSA dengan baik. Bila kita menghilangkan ‘keuntungan’ revaluasi aset sebesar rp.1,074 Trilyun dari laporan laba rugi GWSA, akan kita temukan bahwa keuntungan bersih GWSA hanya rp. 195 Milyar. Dan bila kita menghilangkan akun Laba bersih dari entitas asosiasi sebesar rp.251 Milyar, maka GWSA malah akan mencatatkan kerugian rp.56 Milyar. Oleh karena entitas asosiasi yang memberikan banyak keuntungan bagi GWSA adalah Agung podomoro Group, kami menyarankan kepada pembesar GWSA untuk menunduk dalam-dalam ketika berjumpa Trihatma Haliman 😀

Teknik akuntansi seperti ini memang bisa menggelembungkan laporan keuangan suatu perusahaan. Namun, hal ini bukannya tanpa resiko. Menggunakan perhitungan nilai wajar untuk aset sebagai sarana menaikkan nilai aset dan laba bersih, memang tampak memberikan hasil instant di masa dimana bisnis berjalan baik. namun, hal itu akan memberikan pukulan godam di saat kondisi bisnis memburuk, yang pasti terjadi di masa depan. selain itu, perhitungan ROE GWSA akan jadi sangat rendah, mengingat Ekuitas yang sudah menggelembung dan laba bersih yang pasti jauh menurun daripada tahun 2015, seperti nanti di akhir 2016, dimana tidak ada lagi laba revaluasi aset. Karena beberapa sebab ini, Investor biasanya tidak suka dengan emiten yg melakukan hal ini, walaupun secara akuntansi diperbolehkan..

Dari sisi Keuangan, Melihat posisi DER GWSA bisa sangat menipu, dimana DER GWSA di Q2 2016 sebesar 0,05.
Namun, bila kita melihat OCF GWSA, kita akan melihat operasional GWSA sedang melahap banyak sekali uang kas. GWSA selalu mencatat arus kas operasional negatif sejak 2013- hingga Q2 2016, yang berarti Bisnis GWSA sedang kehilangan Uang. Hal ini membuat di masa depan GWSA membutuhkan tambahan hutang lagi, untuk menyediakan bahan bakar untuk proyek-proyeknya.

Dari alokasi modal dan strategi bisnisnya, kita bisa menilai manajemen GWSA terhitung berkinerja baik. Keputusan untuk bekerja sama dengan Agung Podomoro Grup , Induk usaha APLN, memberikan hasil yang baik dengan laba stabil di kisaran 250 Milyar per tahun. Sayangnya, untuk bisnis internal, menurut kami GWSA belum begitu baik, dimana saat ini Persediaan Properti dan Properti Investasi GWSA terbatas, sehingga akan susah mengangkat pendapatan GWSA ke posisi lebih tinggi. Bila kekosongan Persediaan ini terjadi lagi di masa depan, bukan tidak mungkin harga saham GWSA akan naik turun seperti roller coaster, yang tentunya tidak menyenangkan untuk pemegang saham retail.

Saat ini, saham GWSA berada di harga 140/saham, yang berarti mempunyai PBV 0,17 dan menggunakan laba bersih Q2 2016 yang disetahunkan, maka PER GWSA 5,5..

mmh..masih Tampak cukup Murah ya?

Tapi mengingat di masa bullish seperti sekarang harga sahamnya stagnan di 140/saham, rendahnya properti Investasi dan persediaan properti GWSA, masih mengkhawatirkannya kondisi arus kas GWSA dan riwayat perusahaan yang tidak pernah membagikan deviden, Saya belum tertarik mengkoleksi GWSA.

Bagaimana dengan anda?

PT Greenwood Sejahtera Tbk. , GWSA, Q2 2016,

rating bisnis : C

rating keuangan : B

rating manajemen : B

rating harga saham : B

 

 

@dr_BramIrfanda

^ utk update artikel analisa saham melalui Telegram, silakan Join Irfanda Capital on telegram

Setiap minggu, kami akan menulis analisis saham fundamental emiten BEI dan akan mempostingnya di blog ini. Untuk MENDAPAT KIRIMAN EMAIL GRATIS UPDATE ARTIKEL TERBARU irfanda.id , silakan masukkan email anda ke form dibawah ini

Subscribe to Blog via Email

GRATIS! utk berlangganan gratis, Masukkan email anda di form dibawah ini, lalu klik link konfirmasi berlangganan yang kami kirim ke email anda

Tagged: , , , , , , ,

Comments: 2

  1. ALI October 27, 2016 at 7:47 pm Reply

    GEDANG GORENG

    • @dr_BramIrfanda May 14, 2017 at 4:20 pm Reply

      tepung goreng, tdk ada pisangnya.. kyknya lebih tepat ya 😀

Leave a Reply