IPO Sritex : Analisa Keuangan | BIA #3

Sritex (PT Sri Rejeki Isman), akan melakukan IPO, Bagaimana prospektus IPO Sritex? Bagaimana analisis Saham Sritex? bagaimana analisa Keuangan Sritex?

Analisa Keuangan Sritex

Dari prosektus IPO Sritex, bisa kita dapatkan Neraca dan Laporan Laba Rugi Sritex sejak tahun 2008-2012. Dari data Keuangan itu, yang pertama kita lihat adalah Laporan Laba Rugi milik perseroan.

Dari laporan Laba Rugi Sritex tahun 2008-2012, bisa kita dapatkan data bahwa selama periode tersebut, penjualan bersih Sritex selalu naik dengan rata-rata persentase kenaikan 16,85%. Hal ini cukup menggembirakan mengingat Sritex adalah perusahaan tekstil yang mayoritas pasar produknya adalah pasar ekspor dan kondisi ekonomi dunia yang secara umum bisa dikatakan masih belum begitu baik.

Sayangnya, Harga Pokok penjualan Sritex dari tahun 2008 hingga 2012 juga mengalami peningkatan rata-rata sebesar 17,19%. Hal ini membuat Laba Kotor Sritex dari tahun 2008 hingga 2012 hanya mengalami peningkatan rata-rata sebesar 15,73%. Yang perlu kita cermati adalah data Harga Pokok penjualan Sritex di tahun 2009, dimana terdapat peningkatan HPP hingga 23,16%, sedangkan penjualan bersih Sritex di tahun itu hanya naik 7,9%. Hal ini berhubungan dengan kondisi ekonomi dunia saat itu yang sedang terkena krisis ekonomi masif di sebagian besar negara.

Beban Usaha Sritex dari tahun 2008 hingga 2012 juga mengalami kenaikan rata-rata sebesar 13% setiap tahun. Yang perlu kita cermati adalah tingginya kenaikan beban Usaha Sritex pada tahun 2012, yang naik 55% dari tahun sebelumnya. Bila fenomena kenaikan beban usaha ini terus berlanjut, akan bisa membuat Sritex mengalami kesulitan di masa depan. Sayangnya, bila kita tengok kembali posisi hutang bank sritex saat ini, beberapa tahun kedepan beban usaha perseroan akan makin besar akibat pembayaran biaya bunga bank yang ditanggung perseroan.

Laba Operasi Sritex mengalami peningkatan rata-rata sebesar 16,65% sejak tahun 2008-2012. Namun, pada tahun 2009, laba Operasi Sritex sempat menurun sebesar 77% dari tahun sebelumnya. Alhasil, walau Laba bersih Sritex secara rata-rata naik sebesar 19%, Sritex pernah mengalami kerugian bersih di tahun 2008 sebesar Rp.21,8 Milyar.

Dari Neraca Sritex tahun 2012, bisa kita dapatkan posisi total Aset perseroan adalah sebesar Rp.3,553 Trilyun, dimana Aset lancar perseroan sejumlah Rp.1,489 dan Aset Tidak lancar perseroan sebesar Rp.2,064 Triyun. Aset Tidak lancar perseroan meningkat drastis sejak 2011, dimana angka kenaikan rata-rata pertahunnya adalah sebesar 53% pertahun. Hal ini, agaknya dilakukan perseroan untuk menggejot kapasitas Produksi dan nilai Penjualan demi mempercantik diri menjelang IPO.

Upaya mempercantik diri sebelum IPO membuat posisi pinjaman Bank perseroan meningkat secara signifikan. Antara tahun 2008-2010, posisi total hutang bank perseroan berada di kisaran Rp.700 Milyar. Namun, di akhir tahun 2012, posisi total hutang bank perseroan berada di angka Rp.1,688 Trilyun, atau mengalami peningkatan 137% hanya selama 2 tahun. Posisi hutang Bank yang demikian besar, ditambah porsi hutang Bank jangka pendeknya di posisi Rp.950 Milyar pada akhir 2012, bisa membawa kesulitas likuiditas bagi perseroan di tahun 2013 bila Perseroan tidak melakukan IPO. Untungnya posisi aset lancar perseroan adalah sebesar Rp.1,489 Trilyun dan Kewajiban lancar perseroan sebesar Rp.1,372 Trilyun sehingga bisa dibilang posisi likuiditas perusahaan tidak berbahaya, walau tidak pantas disebut baik.

Penambahan Hutang Bank yang cukup besar selama 3 tahun terakhir, membuat total kewajiban Sritex berada di angka Rp.2,230 Trilyun dengan posisi kewajiban jangka pendek sebesar Rp.1,372 Trilyun dan posisi kewajiban jangka panjang sebesar Rp.857 Milyar. Persentase Total Kewajiban dibanding aset yang berjumlah 62% bisa dianggap tidak berbahaya.

Equitas Sritex terus mengalami peningkatan sejak tahun 2010, sayangnya peningkatan Ekuitas Sritex selain disebabkan oleh peningkatan Laba Ditahan, juga berasal dari penerbitan ekuitas baru pada tahun 2010 Dan 2011 senilai total Rp.368 Milyar. Yang harus diwaspadai adalah kecenderungan perseroan untuk mencetak Ekuitas demi pertumbuhan di masa depan, karena hal ini bisa mendilusi kepemilikan Saham milik Investor Perseroan di masa depan.

 

Pinjaman Bank Sritex

Pinjaman Bank 2008 2009 2010 2011 2012
Jangka Pendek 476 596 460 672 726
CPLTD 41 43 45 110 224
Jangka Panjang 220 194 131 500 738
Total Hutang bank 737 833 636 1282 1688

Laba Bersih Sritex

NET PROFIT
Tahun 2008 2009 2010 2011 2012
Net Profit 114 -21 142 161 229

 

Data diatas adalah data Pinjaman bank dan laba Bersih Sritex dari tahun 2008 hingga 2012. Terlihat bahwa total hutang bank perseroan relatif stabil di angka Rp.600-800 Milyar di tahun 2008 hingga akhir 2010. Baru di tahun 2011 dan 2012 hutang bank perseroan meningkat secara signifikan, sehingga Rata -rata kenaikan hutang Bank untuk tahun 2011 dan 2012 adalah 63% pertahun.

Dari data diatas, Kenaikan posisi hutang bank, tidak bisa diimbangi oleh kenaikan laba Bersih, dimana dalam kurun waktu 2011 dan 2012, setelah mengambil hutang bank yang sedemikian besar, kenaikan laba bersihnya hanya sebesar 27% per tahun.

Tentu pihak perseroan bisa beralasan bahwa hutang bank ini dipergunakan untuk penambahan pabrik dan kapasitas produksi yang malah berpotensi meningkatkan laba bersih perseroan di masa mendatang. Namun melihat prospektus yang dilansir perseroan, dimana hanya dalam waktu 1-2 tahun dari penambahan hutang bank secara besar-besaran pada tahun 2011 dan 2012, Realisasi produksi divisi weaving dan divisi garment perseroan sudah memakan kapasitas produksi lebih dari 85%, maka bisa disimpulkan bahwa perseroan membutuhkan penambahan modal yang cukup besar di tahun-tahun mendatang.

Besarnya komponen kebutuhan modal yang tidak diimbangi kenaikan Laba Bersih seperti yang perseroan tunjukkan, merupakan keadaan yang mengandung bahaya bila keadaan ekonomi secara umum atau kemampulabaan perseroan melemah.

Arus kas operasional (Operating Cash Flow) yang Sritex Peroleh selama tahun 2012 hanya sebesar Rp.72 Milyar. Adapun Arus Kas Bersih (Free cash Flow) yang dihimpun sritex selama 2012 malah negatif karena kebutuhan modalnya untuk pembangunan pabrik baru yang senilai lebih dari Rp.600 Milyar. Suatu data yang tidak bisa dianggap baik saat kita akan berinvestasi di suatu perusahaan.

Rating Keuangan Sritex 2012 : C

 

@AnalisisSaham

^ utk update artikel analisa saham melalui Telegram, silakan Join Irfanda Capital on telegram

 

Artikel Terkait : 

Tagged: , , ,

Leave a Reply