IPO Sritex : Analisa Bisnis | BIA #1

Sritex (PT Sri Rejeki Isman), sebuah Perusahaan Tekstil tingkat Dunia, akan melakukan IPO, Bagaimana prospektus IPO Sritex? Bagaimana analisis Saham Sritex?

Pada tahun 2013 ini, Sritex berencana menjual sebagian kepemilikan sahamnya melalui mekanisme Initial Public Offering (IPO). Jumlah saham yang akan dijual adalah sebanyak 5.600.000.000 (lima miliar enam ratus juta) saham biasa atas nama atau setara dengan 30,12% (tiga puluh koma dua belas persen) kepemilikan dengan nilai nominal Rp100,- (seratus Rupiah) dengan harga penawaran dikisaran Rp230 – Rp385 per lembar saham.

Dengan harga penawaran tersebut, Sritex diperkirakan akan mendapatkan total dana IPO sebesar Rp1.288.000.000.000 – Rp2.156.000.000.000. Rencana penggunaan dana IPO tersebut adalah sbb:
1. Sekitar 87% akan digunakan untuk ekspansi pabrik pemintalan (spinning).
2. Sekitar 13% akan digunakan untuk ekspansi pabrik konveksi (garment).

Analisis Bisnis

PT Sri Rejeki Isman atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sritex, adalah perusahaan texstil terpadu terbesar di Asia Tenggara dengan jumlah karyawan total pada tahun 2012 sebanyak 26.000 orang. Sritex didirikan oleh H.M Lukminto pada tahun 1966 yang dimulai dari usaha dagang di pasar Klewer, Solo. Selama 47 tahun berdiri, Sritex berhasil selamat dari Krisis Asia 1998 dan Krisis Dunia 2008.

Lini Usaha Sritex membentang dari hulu ke hilir mulai dari proses pemintalan (spinning), pertenunan (weaving), finishing kain yang terdiri dari pencelupan (dyeing) dan percetakan (printing), sampai dengan konveksi pembuatan pakaian jadi (garment). Hal ini menyebabkan Sritex tidak tergantung pada satu proses produksi saja, sehingga Sritex cukup aman dalam kaitan ketergantungan pada bahan baku dan konsumen

Proses – proses Produksi perseroan berjalan dalam 21 unit pabrik yang terdiri atas 9 pabrik pemintalan, 3 pabrik pertenunan dan pabrik penyempurnaan yang terdiri atas pabrik pencelupan dan pabrik pencetakan serta 6 pabrik konveksi yang berada di daerah yang berdekatan.

Dari data Prospektus IPO Sritex yang dilansir perseroan, Perseroan mencatatkan peningkatan nilai penjualan rata-rata sebesar 16,85 % setiap tahunnya, suatu angka yang cukup bagus untuk perusahaan di Industri Tekstil yang menghadapi banyak tantangan baik dari dalam maupun luar negeri.

Untuk tahun 2012, Sritex mengalami peningkatan pendapatan sebesar 23,02% menjadi Rp2,85 triliun dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yakni Rp2,32 triilun. Penjualan perseroan di dominasi oleh pasar ekspor yang mencapai 78%. Penetrasi pasar ekspor yang demikian masif, terjadi karena perseroan sudah melakukan penetrasi ke 94 pasar di 55 negara dan berencana akan memperluas jaringan pemasarannya antara 5-10 negara setiap tahunnya.

Rencana Perseroan untuk memperluas jaringan pemasaran ekspornya tentu menjanjikan, namun di tengah menjamurnya industri tekstil di negara-negara lain yang upah buruh masih rendah, rencana ini belum tentu dapat menghasilkan keuntungan seperti yang diharapkan.

Divisi Pemintalan (Spinning) Sritex yang Proses produksinya merubah bahan baku berupa serat menjadi benang, merupakan lini bisnis yang perseroan ingin kembangkan lebih lanjut. Hal ini terlihat dari Rencana penggunaan dana IPO yang Sekitar 87% akan digunakan untuk ekspansi pabrik pemintalan (spinning). Pada tahun 2012, Nilai penjualan Divisi spinning adalah sebesar 20,9% dari total penjualan perseroan. Sejak tahun 2008-2012, jumlah produksi Divisi Pemintalan (Spinning) Sritex tumbuh sebesar 59,17 % setiap tahunnya. Pertumbuhan produksi Divisi Pemintalan yang tinggi ini ditunjang oleh ekspansi Sritex dalam meningkatkan kapasitas produksinya. Hingga pada tahun 2012, setelah produksi Divisi Pemintalan (Spinning) meningkat begitu drastis, baru 71,74% kapasitas yang digunakan dari kapasitas total sebanyak 352.320 Bale benang.

Peningkatan kapasitas Produksi Divisi Pemintalan (Spinning) ini merupakan hal yang tampak baik bagi perseroan, namun dipandang dari sisi profitabilitas, hal ini tidak begitu menjanjikan mengingat sifat dari divisi Pemintalan (Spinning) yang hanya menghasilkan benang yang merupakan barang komoditas dan mempunyai margin rendah. Hal ini ditambah dengan kenyataan bahwa biaya produksi dan overhead cost industri tekstil yang merupakan industri padat karya di Indonesia (termasuk perseroan) lebih tinggi dibandingkan banyak negara berkembang lainnya, sehingga benang produksi perseroan relatif rentan terhadap perang harga.

Divisi Pertenunan (Weaving) Sritex, yang berperan merubah benang menjadi kain, juga mencatatkan pertumbuhan yang baik sejak tahun 2008 hingga 2012, dimana tingkat pertumbuhan per tahun adalah sebesar 35,74%. Kontribusi nilai penjualan Divisi weaving adalah sebesar 9,6% dari total penjualan perseroan. Walaupun produksi Divisi Pertenunan (Weaving) di tahun 2012 menurun dibanding produksi di tahun 2011, namun produksi Divisi Pertenunan (Weaving) di tahun 2012 sudah merupakan peningkatan yang drastis dibandingkan produksi tahun 2008 dan 2009.

Seperti halnya yang terjadi pada divisi Pemintalan, Peningkatan Produksi Divisi Pertenunan ini merupakan hal yang baik bagi perseroan, namun dipandang dari sisi profitabilitas, hal ini tidak begitu memuaskan mengingat sifat dari Divisi Pertenunan (Weaving) yang hanya menghasilkan kain mentah (greige) yang merupakan barang komoditas dan mempunyai margin rendah. Selain itu, trend peningkatan produksi Divisi Pertenunan (Weaving) selama tahun 2012, sudah memakan 89,5% dari total kapasitas Divisi Pertenunan milik perseroan, sehingga diperlukan tambahan modal lagi untuk meningkatkan kapasitas produksi Divisi Pertenunan perseroan.

Divisi Finishing Kain berperan menghasilkan produk berupa kain jadi yang dikenal dengan nama Fabrics. Proses Finishing Kain ini terdiri dari beberapa proses yaitu pencelupan (dyeing) maupun pencetakan (printing) dan desain. Kinerja Divisi Finishing Kain sejak tahun 2008 hingga 2012 cukup baik dengan peningkatan produksi tahunan rata-rata adalah sebesar 16,92 %. Divisi Finishing Kain merupakan penyumbang nilai penjualan terbesar dimana nilai penjualan divisi finishing kain pada tahun 2012 adalah sebesar 45,6% dari total pendapatan perseroan.

Walaupun pertumbuhan realisasi produksi tahunan Divisi Finishing Kain cukup baik, realisasi produksi Divisi Finishing kain pada tahun 2012 hanya sebesar 57 % dari total kapasitas produksi perseroan, sehingga bisa disimpulkan bahwa masih banyak ruang untuk terjadinya pertumbuhan jumlah produksi dari divisi Finishing Kain, tanpa diperlukan tambahan modal untuk penambahan kapasitas produksi. Dari segi profitabilitas, Divisi ini merupakan divisi yang menawarkan margin yang cukup baik karena sifatnya yang custom dan unik sesuai pesanan konsumen serta kreatifitas tim produksi perseroan

Divisi Konveksi (Garment) merupakan proses terakhir dari kain fabrics yang sudah dicelup atau dicetak untuk dijahit dan menghasilkan produk pakaian jadi. Pada tahun 2012, nilai Penjualan divisi garment adalah sebesar 23,9% dari total pendapatan perseroan. Sayangnya, sejak tahun 2008 Kinerja divisi Konveksi (Garment) terus mengalami penurunan dari tahun ketahun. Tingkat penurunan yang terjadi juga cukup memprihatinkan yakni sebesar 10 % per tahun. Penurunan terbesar terjadi dari pasar Ekspor yang mengalami penurunan total sebesar 50 % selama 5 tahun terakhir.

Hal ini agaknya berhubungan dengan mulai mahalnya biaya produksi perseroan terutama biaya tenaga kerja sehingga harga jual perseroan sulit bersaing melawan industri garment dari negara-negara dimana tingkat upah buruh masih murah seperti bangladesh, kamboja dll.

Menurut prospektus yang dilansir perseroan, sekitar 13% dari dana IPO akan digunakan untuk ekspansi pabrik konveksi (garment). Hal ini merupakan suatu langkah yang tepat, mengingat produksi Divisi Konveksi tahun 2012 saja sudah memakan 85,81 % dari total kapasitas produksi Divisi Konveksi milik perseroan. Diharapkan, dengan adanya ekspansi pabrik Konveksi itu, divisi konveksi perseroan akan kembali bisa meningkatkan realisasi produksinya di tahun-tahun mendatang.

Melihat dari Data dan Rencana kerja Perseroan, disandingkan dengan data industri Tekstil secara umum, bisa kita simpulkan bahwa perseroan menghadapi ancaman yang sama dari sifat industrinya yang padat karya. industri Tekstil di Indonesia, secara umum menghadapi ancaman fenomena permintaan kenaikan upah buruh. Bagi Perusahaan tekstil seperti Perseroan, upah buruh merupakan salah satu komponen biaya produksi terbesar, sehingga kenaikan upah buruh yang signifikan bisa menggerus kemampulabaan perseroan.

Namun, bila dilihat dari letak pabrik Perseroan yang berada di kabupaten Sukoharjo, dimana Upah Minimum Kabupaten (UMK)nya masih berada pada angka rp. 902.000/bulan, posisi perseroan jauh lebih baik dibandingkan perusahaan tekstil lain yang mayoritas berada di tangerang , Bandung dan jakarta dimana UMRnya sudah berkisar di angka Rp.2 juta/bulan.

Perseroan juga menghadapi meningkatnya ancaman dari kompetitor luar negeri yang menawarkan harga lebih murah karena mempunyai keunggulan dari sisi biaya produksi yang lebih murah, hal ini tercermin dari makin menurunnya produksi divisi konveksi & Weaving perseroan. Namun, rencana perseroan untuk melakukan penetrasi pasar ke 5-10 negara baru setiap tahun, diharapkan bisa meningkatkan kembali pasar ekspor perseroan.

Dengan ukuran bisnis perseroan yang sudah meraksasa, agaknya cukup disayangkan ketika ternyata perseroan tidak mempunyai lini merk pakaian yang terkenal, semacam Zara atau Uniqlo, yang diharapkan akan mampu memberikan margin yang lebih tinggi dibandingkan lini bisnis perseroan saat ini.

Dilihat dari sejarah operasional perseroan, perseroan mencatatkan kinerja yang sangat konsisten dengan peningkatan kapasitas produksi dan keuntungan bersih yang juga konsisten selama 47 tahun perseroan berdiri. Walaupun beberapa kali melewati krisis ekonomi, yakni di tahun 1966, 1998, dan 2008, perseroan masih mampu bertahan dan kembali meraih keuntungan ketika keadaan perekonomian membaik. Dari data historis ini, bisa kita simpulkan, bahwa besar kemungkinan Perseroan akan mampu terus mencatatkan kinerja baik yang konsisten di tahun-tahun mendatang.

Sayangnya, perseroan berada di industri tekstil yang prospeknya kedepan akan semakin gelap akibat fenomena kenaikan gaji buruh yang besar dan berbagai beban produksi lainnya. Perseroan juga menghadapi banyak pesaing dari negara berkembang lain dimana biaya produksi dan tenaga kerja masih murah seperti di bangladesh dan Kamboja. Untuk ke depan, Agaknya perseroan perlu mulai membuat lini produk fashion dimana margin keuntungan yang diperoleh lebih besar. Selain itu, agar bisa bersaing dengan industri tekstil negara lain, Perseroan di masa depan bisa memindahkan tempat produksinya ke negara dimana biaya tenaga kerjanya lebih murah.

Kesimpulan

Dilihat dari sisi bisnis, ditengah beberapa ancaman terhadap kinerja perseroan, perseroan tetap mampu tumbuh di tengah iklim usaha yang sedang tidak begitu bersahabat bagi industri sejenis. Hal ini membuat kinerja perseroan lebih baik dibandingkan perusahaan tekstil lain di Indonesia, dan membuatnya mampu berdiri menjadi perusahaan tekstil terbesar di asia tenggara.

Jadi, bila Anda ingin membeli saham di bidang tekstil, Sritex adalah pilihan terbaik saat ini, karena kinerja bisnis perseroan adalah yang terbaik di Industrinya.

Rating Kinerja Bisnis Sritex 2012 : B

 

@analisisSaham

 

Artikel Terkait : 

Tagged: , , , , ,

Leave a Reply