Harga Saham DSNG, Undervalue? – BIA #95

Harga saham PT Dharma Satya Nusantara Tbk. atau DSN Group, DSNG, sudah turun lebih 60% dari posisinya di april 2015. Apakah Harga saham DSNG sudah undervalue?

Karena laporan tahunan tahun 2018 belum ada, Untuk menganalisis apakah harga saham DSNG sudah undervalue, kita gunakan laporan tahunan DSNG tahun 2017 dan laporan keuangan DSNG Q3 2018..

PT Dharma Satya Nusantara Tbk. atau DSN Group, DSNG, didirikan pada tanggal 29 September 1980 oleh Bapak Winarto Oetomo (almarhum). Pada awalnya, bidang usaha utama DSNG adalah industri perkayuan, karena mendapatkan Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dari Pemerintah. Pada tahun 1996, DSNG melakukan ekspansi ke sektor usaha perkebunan kelapa sawit di Provinsi Kalimantan Timur. Perluasan lahan sawit DSNG di Kalimantan Timur terus dilakukan hingga menjadi satu hamparan sawit yang menyatu dengan luas sekitar 60.000 hektar. Dari Kalimantan Timur, kebun kelapa sawit DSNG dikembangkan hingga Kalimantan Tengah dan, Kalimantan Barat. Pada bulan Juni 2013, DSNG secara resmi menjadi perusahaan publik dengan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia. Sampai dengan akhir 2017, Perseroan memiliki 13 perkebunan kelapa sawit, tujuh Pabrik Kelapa Sawit dan 1 pabrik Kernel Crushing Plant.

Dari apa yang saya baca di Laporan Tahunan DSNG, Ada beberapa hal positif dari DSNG :

  • Umur Sawit DSNG Muda

Rata-rata umur sawit DSNG berada di angka 8,6 tahun, alias sangat muda. Jauh lebih muda bila dibandingkan dengan LSIP dan AALI yang rata-rata sawitnya sudah berumur lebih dari 15 tahun. Lahan Tertanam DSNG yang berisi tanaman sawit immature juga masih ada sekitar 18.000 ha. Artinya akan ada pertumbuhan produksi sawit di masa mendatang..

  • DSNG Masih Bisa Menambah Lahan.

Sampai akhir 2017, DSNG telah memiliki lahan tertanam seluas 90,3 ribu hektar. Dari jumlah tersebut, total lahan tertanam kebun inti mencapai 69,4 ribu hektar dan kebun plasma sekitar 20,9 ribu hektar. Karena Kebun intinya masih dibawah 100.000 ha, maka tidak seperti AALI dan LSIP yang sudah mentok lahannya, DSNG masih bisa menambah luasan lahan sawitnya.

  • Bisnis DSNG Tidak Hanya Sawit

Seperti semua perusahaan sawit lainnya, DSNG sangat tergantung pada harga sawit global. Efek negatifnya, ketika ada sentimen negatif ke industri sawit, maka harga produk sawit akan tiarap. DSNG mempunyai sedikit bantalan untuk menghadapi penurunan Harga sawit, yakni lewat lini bisnis perkayuan yang tahun 2017 menyumbang angka penjualan sebesar 17% dari total nilai penjualan DSNG

  • DSNG mempunyai produk non komoditas : TEKA Parquet

Produk kayu DSNG sebagian besar ditujukan untuk pasar ekspor. Dan DSNG menjual produk engineered Floor dan wall panelnya dengan merek Teka. Tentunya ini juga bisa jadi bantalan DSNG untuk lebih kuat menghadapi volalitas industri sawit

  • Pemegang Saham Pengendali DSNG Memiliki Integritas

Ada empat keluarga yang menjadi pemegang saham lebih dari 5% di DSNG, diantaranya : keluarga Oetomo 28,86%, TP Rachmat 30,98%, Liana Salim 6,26% dan Arini Subianto 8,4 %. Ada dua orang pemegang saham DSNG yang terkenal punya rekam jejak bisnis yang baik, yakni TP Rachmat dan Arini Subianto – putri Benny Subianto-. Keduanya memiliki 39,4% saham DSNG, alias pemegang saham yang terbesar. Pentingnya memiliki pemegang saham pengendali yang baik tergambar jelas pada laporan keuangan DSNG yang termasuk bersih dari berbagai hal unik.

Selain hal baik diatas, ada beberapa Hal Negatif yang saya temukan dari DSNG, diantaranya :

  • Kebutuhan Dana DSNG Besar

Bila melihat masih besarnya lahan immature DSNG, dan adanya peluang untuk menambah luasan lahan. Maka sepertinya DSNG dibeberapa tahun kedepan akan butuh banyak uang untuk melakukan pengembangan dan perluasan lahan. Akan segera dibutuhkan banyak jalan baru, truk baru dan banyak keperluan lain guna menyesuaikan diri dengan kapasitas panen yang akan meningkat. Dan ini tentu saja semua itu butuh biaya, yang banyak. Apakah kebutuhan ini akan dipenuhi lewat tambahan hutang lagi atau right issue? apakah DSNG akan membagikan deviden atau laba bersih digunakan untuk pengembangan usaha?

  • Hutang Berbunga DSNG besar

Pada laporan keuangan DSNG Q3 2018, tercatat hutang berbunga DSNG sejumlah 623+532 +3078 = 4,23 trilyun. Bila kita menilik pada ekuitas DSNG, maka total ekuitas DSNG pada Q3 2018 adalah sebesar rp3,626. Artinya Net DER DSNG sudah mencapai angka 1,17 , dengan DER sebesar 1,5. Suatu angka DER yang besar untuk bisnis komoditas.

Dari beberapa hal diatas, maka besar kemungkinan harga saham DSNG kembali ke harga puncak di 950an masih butuh waktu. Mungkin beberapa tahun kedepan..

PT Dharma Satya Nusantara Tbk. , DSNG, Q3 2018

Rating kinerja Bisnis              : B

Rating Kualitas Manajemen : B

Rating Kondisi Keuangan      : C

Rating Harga saham              : B

@dr_BramIrfanda

utk update artikel melalui Telegram, silakan Join Irfanda Capital on telegram

Setiap minggu, kami akan menulis analisis saham fundamental emiten BEI dan akan mempostingnya di blog ini. Untuk MENDAPAT UPDATE ARTIKEL TERBARU The Bram Irfanda Analysis , silakan klik subscribe atau masukkan email anda ke form dibawah ini

Tagged: , , , , , ,

Leave a Reply