Analisa Keuangan Bukit Darmo Property (BKDP) | BIA #8

PT Bukit Darmo Property Tbk (BKDP) adalah sebuah perusahaan Properti yang berpusat di Surabaya. BKDP merupakan perusahaan transformasi dari PT Adhibaladika yang merupakan perusahaan properti milik keluarga Sumampow. Setelah melakukan IPO di tahun 2007, Keluarga Sumampow masih menguasai 57,88% dari total Kepemilikan Saham BKDP..

Saat ini, BKDP fokus pada tiga proyek utama, yakni The Adhiwangsa Golf Residence, Suite Hotel & Serviced Residence dan sebuah ritel mal, Lenmarc Mall. Ketiga proyek mix use development milik BKDP ini terletak di daerah Surabaya bagian barat. Proyek tersebut dibangun di atas lahan HGB yang berlaku sampai tahun 2032 dengan luas sekitar 5,5 ha, yang terletak di Jalan Bukit Darmo Boulevard, Surabaya.

Bagaimana Kinerja Keuangan BKDP di tahun 2012?

Setelah menganalisa kinerja bisnis BKDP yang telah kami beri Rating Kinerja Bisnis E, di artikel ini kita bahas Kinerja keuangan BKDP..

Pertama, kita lihat dahulu posisi aset perseroan..

Terjadi penurunan posisi Aset yang signifikan di posisi Kas BKDP dari Rp.88 Milyar di tahun 2011 menjadi hanya Rp. 30 Milyar di tahun 2012. Posisi kas yang hanya sebesar Rp.30 Milyar sangat berbahaya mengingat beban umum dan adminstrasi di tahun 2012 saja sebesar Rp.22 Milyar sedangkan beban bunga akibat hutang bank yang perseroan miliki pada tahun 2012 adalah sebesar Rp.13 Milyar. Bila penjualan perseroan menurun, kondisi kas akan sangat tertekan. Kondisi ini bisa berbahaya bagi kelangsungan usaha perseroan..

Piutang Usaha BKDP berada di posisi yang lebih besar dibanding kas Perseroan di tahun 2012. Posisi Piutang Usaha di tahun 2012 ini tidak jauh berbeda dengan posisi piutang usaha perseroan di tahun 2011.Piutang Usaha terbesar yang sebesar rp.55 Milyar, berasal dari penjualan unit Kondominium atau apartemennya, yang mengisyaratkan kesulitan yang dihadapi perseroan dalam pelunasan penjualan unit kondominiumnya..

Dari sisi aset, Persediaan BKDP berjumlah Rp.174 Milyar. Persediaan ini merupakan persediaan dari Tower apartemen Adhiwangsa A yang berupa apartemen senilai Rp.36 Milyar dan Tower B yang berupa hotel senilai Rp.114 Milyar. Selain berupa tower, masih ada tanah senilai Rp.22 Milyar yang masih bisa dikembangkan. Yang perlu dicatat, semua persediaan ini telah dijaminkan ke Bank Bukopin sehingga tidak bisa dianggap sebagai Harta milik perseran, bila perseroan mengalami masalah keuangan.

Dari kolom aset tetap, ada juga tanah mentah atau tanah yang belum dikembangkan oleh perusahaan, yakni senilai Rp.108 Milyar dan aset tetap berupa tanah dan bangunan mall Lenmarc yang senilai Rp.512 Milyar. Semua aset tetap yang berupa tanah, telah dijaminkan kepada Bank Bukopin untuk Hutang jangka Panjang Perseroan..

Dari Aset-aset milik perseroan, jumlah total Aset lancarnya yang benar-benar lancar, hanyalah yang berasal dari kolom Kas dan setara kas, yakni Rp.30 Milyar..

Dari posisi Aset Total milik perseroan tahun 2012, terdapat penurunan sebesar Rp.76 Milyar, dimana porsi penurunan terbesar berasal dari Penyusutan Lenmarc Mall dan penurunan pada Posisi Kas dan setara Kas.

Dari Akun Liabilitas, bisa kita lihat bahwa perseroan mempunyai jenis pembiayaan yang buruk, yakni Hutang Bank yang sebesar Rp.173 Milyar. Dari Hutang bank yang sebesar itu, porsi hutang jangka pendek dari hutang bank tersebut adalah Rp.51 Milyar untuk tahun 2013..

Selain hutang bank, ada hutang usaha kepada pihak ketiga sebesar Rp.30 Milyar, dimana Rp.23 Milyar diantaranya disumbang oleh hutang usaha ke PT Wijaya Karya (WIKA). Sayangnya,Hutang Rp.23 Milyar ke WIKA ini sudah merembet ke ranah hukum dan Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) telah menghukum perseroan untuk membayar Hutang ke PT WIKA disertai denda yang totalnya mencapai Rp.47 Milyar..

Permasalahan Hutang Usaha dan Beban yang masih harus dibayar membuat BKDP harus mencari pemasok baru karena banyak pemasok lama yang belum terbayar tagihannya..

Dari Akun Liabilitas BKDP, bisa kita hitung bahwa nilai Current Liabilities perseroan yang benar-benar bisa disebut beban lancar adalah Porsi jangka pendek dari hutang Bank jangka panjang dan tagihan PT WIKA yang berjumlah total Rp.98 Milyar

Dari Posisi Aset lancar dan Kewajiban jangka pendek perseroan, tersebut, bisa kita dapatkan Current ratio BKDP ada di posisi 0,30..

Hal ini cukup berbahaya, mengingat di angka current ratio seperti itu, diperlukan penambahan Hutang yang cukup besar untuk menutupi kewajiban jangka pendek serta beban tetap perseroan..

Pada tahun 2012, BKDP menderita kerugian bersih sebesar Rp.58 Milyar. Hal ini makin menambah defisit modal berjalan menjadi sebesar Rp.102 Milyar..

Dari Curret ratio yang diangka 0,30 dan kerugian bersih serta defisit modal yang begitu besar, kami simpulkan bahwa keadaan keuangan BKDP adalah Sangat Buruk

Rating Keuangan BKBD 2012 : E

^ utk update artikel analisa saham melalui Telegram, silakan Join Irfanda Capital on telegram

 

@dr_Bramirfanda

Tagged: , , , ,

Leave a Reply