Analisa Harga Saham SRIL (SRITEX) Dari Sisi Prospek Bisnis, Murah?

Harga Saham SRIL, PT SRITEX, menurun ke angka 280an dengan PER hanya 4. Apakah SRIL mempunyai valuasi yang murah bila dilihat dari Prospek bisnisnya?

Secara profil perusahaan, bisnis dan tetek bengeknya, SRIL sudah saya bahas saat IPOnya sehingga tidak akan saya bahas lagi. bila anda merasa perlu membacanya, silakan cek disini :

Prospek bisnis industri garmen (proses membuat pakaian jadi) dan tekstil (membuat bahan benang sampai produk jadi) di Indonesia untuk saat ini dan di masa depan bisa dibilang tidak menarik. Penyebab terbesarnya adalah masalah gaji buruh yang terus meningkat. Masalah gaji ini yang menyebabkan banyak pabrik garmen dan tekstil berpindah dari kota besar di indonesia ke kabupaten-kabupaten kecil yang masih rendah UMKnya

Mungkin anda berpendapat : “Lho..SRIL kan memproduksi seragam militer TNI dan NATO, lalu mengerjakan produk H&M dan Uniqlo, bedalah dengan pabrik garmen biasa..”

Well, bila anda berpendapat seperti itu, berarti anda tidak begitu paham bisnis garmen..

Bisnis garmen adalah bisnis yang semacam dengan bisnis komoditas, dimana mereka dengan biaya terendah lah yang akan bertahan dan atau memperoleh laba. Masalahnya, sifat utama industri garmen adalah industri yang labour intensive alias padat karya, dimana untuk menghasilkan produknya memerlukan banyak karyawan, yang tentu saja berarti memerlukan banyak biaya untuk membayar karyawan..

Bisnis Garmen juga tidak mempunyai moat / keunikan daya saing bila dibandingkan dengan pabrik yang lain. Pabrik garmen di kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah akan sama hasil produksinya dengan pabrik garmen di kabupaten Sukoharjo seperti SRIL. Karena itu sejak 2014, Di kabupaten-kabupaten dengan UMK rendah yakni dibawah  rp 2 juta seperti Jepara, Blora dll, banyak kita temui pabrik garmen yang menjamur dan menghasilkan produk merk terkenal di dunia seperti victoria secret, rebook, nike, dll. Jadi memproduksi produk merek-merek dunia dan menyumbang devisa ekspor ini bukan hanya kelebihan dari SRIL saja, yang lainnya juga..

Pelajaran tentang betapa samanya kemampuan pabrik garmen satu dengan yang lain, saya dapatkan dengan cara yang menyakitkan karena perusahaan garmen teman senior yang saya invest dan perusahaan sahabat orang tua saya di Blora, orderan utamanya direbut oleh pabrik garmen baru – yang letaknya di blora juga- yang berani menawarkan harga lebih murah ke pemilik merek..

Mungkin, diantara anda ada yang berpendapat : “ SRIL kan punya pabrik tekstil dan bisa bikin benang dan kain sendiri, ya tentu lebih unggul lah..”

Tentu saja, SRIL sedikit lebih unggul daripada pabrik garmen biasa yang perlu mengimpor atau membeli bahannya, bila di bandingkan dari sisi itu. Namun, yang harus diingat, mesin-mesin yang memproduksi benang dan kain milik SRIL pasti mengalami depresiasi. Depresiasi ini bisa demikian besar sehingga menghapus keunggulan SRIL di sisi itu. Apalagi, bila kita melihat tingkat impor produk tekstil menengah yang berupa benang dan kain sedang tinggi-tingginya saat ini, yang tentu saja juga menjadi pesaing produk benang dan Kain buatan SRIL. Buat apa impor benang dan kain meningkat? Buat dijahit di pabrik garmen pesaing SRIL!

Selain itu, SRIL seperti halnya pabrik tekstil dan garmen lain di indonesia, berada di industri yang persaingannya bukan hanya dengan industri sejenis di dalam negeri, tapi juga industri sejenis di Luar negeri. Masalahnya adalah Industri tekstil dan garmen hanya bisa meraih laba bila gaji buruhnya masih kecil, Sedangkan di indonesia gaji buruh termasuk tinggi bila dibandingkan dengan negara-negara industri garmen lain.

Sejak peningkatan UMP Jakarta sebesar 43,88% di tahun 2013, maka di daerah-daerah lain besaran UMK juga naik dengan kecepatan yang serupa. Untungnya, saat ini kenaikan UMK hanya boleh sebesar inflasi + pertumbuhan ekonomi saja, sehingga besaran kenaikan UMK bisa diramalkan jauh sebelumnya..

Untuk perbandingan saja, Gaji Minimal Pekerja garmen di Bangladesh adalah sebesar 8,000 taka atau sekitar rp.1,335,000 per bulan. Gaji minimal sebesar rp 1,3 juta perbulan ini baru diberlakukan bulan desember 2018, yang naik 51 % dari 5,300 taka atau rp 885 ribu. Uniknya, tahun 2013 merupakan Kali terakhir gaji minimum pekerja garmen di bangladesh di naikkan.. Jadi selama lebih dari 5 tahun, pekerja garment di Bangladesh mempunyai gaji rp885.000/ bulan!

Di Kabupaten Sukoharjo, dimana SRIL berasal, UMK tahun 2020 nanti sudah mencapai 1,938,000. Ini berarti SRIL harus membayar 45% lebih tinggi biaya gaji daripada kompetitornya yang berasal dari bangladesh. Tidak Heran, Bangladesh saat ini menjadi pemain nomor 3 di dunia untuk industri tekstil dan garmen, dan nomor 2 di asia untuk industri ini..

China yang menjadi nomor 1 di dunia dalam industri tekstil dan garmen selama 3 dasawarsa terakhir, sejak tahun 2015 mengalami penurunan. Apa Sebabnya? Biaya gaji yang terus menanjak..

Jadi, Bisa kita simpulkan kalo di masa depan, dipandang dari sudut prospek bisnis, semuanya akan makin susah bagi SRIL..

Juga bagi Investor jangka panjang SRIL..

 

@dr.BramIrfanda

Sebenarnya, masih ada 3 sebab lagi, kenapa PER SRIL hanya 4, namun akan kami bahas bila ada minimal 20 komentar “mau dibahas SRIL lagi” atau sejenisnya pada kolom komentar di bawah tulisan blog ini..

Untuk menerima update GRATIS The Bram Irfanda Analysis, mohon klik subscribe atau mohon masukkan email anda ke form email dibawah ini

The Bram Irfanda Analysis sekarang ada di Youtube, Podcast, Twitter, Facebook dan Telegram untuk berlangganan silakan klik di link masing-masing Social media diatas

Subscribe to Blog via Email

GRATIS! utk berlangganan gratis, Masukkan email anda di form dibawah ini, lalu klik link konfirmasi berlangganan yang kami kirim ke email anda

Tagged: , , , ,

Comments: 3

  1. Stephen November 8, 2019 at 7:13 am Reply

    Bahas total bangun persada dong minn hehe 😁😁

    • @dr_BramIrfanda November 9, 2019 at 7:34 am Reply

      baik kak 🙂

  2. M A N November 9, 2019 at 3:52 pm Reply

    Mau dong pembahasan lebih mendalam, lagi pegang sril. makasih sebelumnya min 😀

Leave a Reply