ADHI Karya, menjanjikan Lima tahun kedepan? | BIA #43

Dari tanggal 6 November 2014 sampai 3 Februari 2015, harga saham PT ADHI Karya Tbk, mengalami kenaikan sebesar 55%. Bagaimana analisis saham fundamental ADHI?

Sejarah ADHI Karya

PT Adhi Karya Tbk (ADHI) adalah salah satu perusahaan terbesar di Indonesia yang bergerak di bidang konstruksi. Architecten-Ingenicure-en Annemersbedrijf Associatie Selle en de Bruyn, Reyerse en de Vries N.V. (Assosiate N.V.) merupakan Perusahaan milik Belanda yang menjadi cikal bakal pendirian ADHI Karya..

Assosiate N.V. dinasionalisasikan dan kemudian ditetapkan sebagai PN Adhi Karya pada tanggal 11 Maret 1960. Kala itu, Pembentukan PN Adhi Karya inilah yang menjadi pemacu pembangunan infrastruktur di Indonesia. Berdasarkan pengesahan Menteri Kehakiman Republik Indonesia, pada tanggal 1 Juni 1974, ADHI berubah status menjadi Perseroan Terbatas..

Pada tahun 2004, ADHI telah melakukan IPO dan menjadi perusahaan konstruksi pertama yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Saat ini, ADHI mempunyai 5 lini bisnis utama, diantarannya Bisnis Jasa Konstruksi, property, real estate, investasi infrastruktur dan Engineering Procurement Construction (EPC)..

Kinerja Bisnis ADHI Karya

Pada tahun 2013, ADHI mencatatkan kinerja bisnis yang cukup memuaskan..

ADHI mencatatkan Pendapatan sebesar rp. 9.799 M atau naik 28,5% dari posisi tahun 2012 yang sebesar rp. 7.627 M..

Lini Bisnis jasa konstruksi menyumbang pendapatan terbesar yakni sebesar Rp7,0 triliun di tahun 2013, meningkat 12,4% dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp6,3 triliun..

Lini bisnis EPC mampu memberikan kontribusi Pendapatan Usaha sebesar Rp1,9 triliun, tumbuh 134,7% dari perolehan tahun sebelumnya sebesar Rp.805,8miliar..

Lini bisnis Properti lewat APP berhasil membukukan perolehan Pendapatan Usaha sebesar Rp507,8 miliar, meningkat 48,5% dari tahun sebelumnya sebesar Rp341,8 miliar..

Lini bisnis Real Estate mampu memberikan kontribusi Pendapatan Usaha di tahun 2013 sebesar Rp197,7 miliar, tumbuh 41,6% dari perolehan tahun sebelumnya sebesar Rp139,6 miliar..

lini bisnis Investasi Infrastruktur berhasil memberikan kontribusi Pendapatan Usaha di tahun 2013 sebesar Rp151,7 miliar, meningkat 128,4% dibandingkan perolehan tahun sebelumnya sebesar Rp66,4 miliar..

Laba bersih ADHI di tahun 2013 meningkat lebih tinggi, yakni menjadi rp.409 M atau naik 91,9% bila dibandingkan laba bersih tahun 2012 yang sebesar rp.213 M. Kenaikan Laba bersih yang hampir 100% ini membuat ADHI mencatatkan Return On Equity sebesar 34,6% dan Pertumbuhan Ekuitas sebesar 31,1%..

Namun, ada hal yang perlu kita perhatikan terkait kinerja bisnis ADHI, yakni adanya Piutang Terancam macet (belum dibayar setelah lebih dari 2 tahun) yang jumlahnya sebesar : rp.385 M. Bila piutang macet ini dihapus bukukan di tahun akuntansi 2013, maka Laba bersih ADHI menjadi rp.24 M, alias jumlah yang kecil sekali..

ADHI juga mencatatkan beban Penyisihan piutang tak tertagih yang cukup besar di tahun 2013, yakni sebesar rp 65 M, namun, jumlah ini jauh lebih kecil bila dibandingkan jumlah beban Penyisihan piutang tak tertagih di tahun 2012 yang sebesar rp.226 M!

ADHI juga mencatatkan Beban lain-lain sebesar Rp.183 M, yang tergolong besar untuk ukuran ADHI karena jumlah itu mencapai 44,7% dari laba bersih, angka yang besar kan?

Agaknya, dari angka-angka diatas, kedepannya ADHI harus lebih selektif dalam mencari proyek Kontruksi, terutama dalam hal mencari pemberi kerja yang memiliki kemampuan untuk membayar, bukan hanya omong besar..

Kondisi Keuangan ADHI Karya

Jumlah total asset ADHI di tahun 2013 sebesar: Rp.9.720 yang meningkat 23 % dari posisi akhir tahun 2012 yang sebesar rp7.872M. Dari total asset itu, Jumlah asset lancar berjumlah rp.9.099 dan asset tidak lancar sebesar rp.621M..

Yang perlu kita perhatikan dengan seksama adalah dari asset lancar ini, Rp.5,161 M merupakan piutang yang tidak semuanya tergolong ‘lancar’. Contoh asset lancar di akun piutang usaha Yang tergolong tidak lancar adalah Piutang Terancam macet (belum dibayar setelah lebih dari 2 tahun) yang jumlahnya sebesar rp.385 M. Jumlah piutang jumbo itu sudah dikurangi estimasi penurunan nilai piutang sebesar rp326M atau 79% dari laba bersih 2013..

Kewajiban ADHI di akhir 2013 sebesar rp.8.172 dengan jumlah kewajiban jangka pendek sebesar rp 6.541 M dan kewajiban jangka panjang sebesar Rp.1.630 M. Dari total kewajiban ADHI di akhir 2013, total Hutang Berbunga sebesar rp 1.708 M . Dari total hutang berbunga, hanya rp.211 M yang merupakan hutang berbunga jangka pendek..

Di akhir 2013, Jumlah Ekuitas ADHI tercatat sebesar rp 1.548 M , naik dari posisi akhir 2012 di Rp1.180M..

Arus Kas Operasi  juga positif sebesar Rp.562M yang meningkat dari posisi tahun 2012 yang sebesar Rp.241M..

Dari data diatas, bisa kita dapatkan nilai rasio lancar ADHI sebesar 139,1 % dan likuiditas yang tergolong baik. Sayangnya, ADHI mempunyai Debt to Equity Ratio (DER) sebesar 5,2 yang tergolong berbahaya secara solvabiltas. Hal ini tampak lebih buruk lagi bila melihat DER hutang berbunga ADHI (net gearing) yang sebesar 1,1..

Resiko kebangkrutan memang kecil karena BUMN konstruksi seperti ADHI adalah tulang punggung pemerintah untuk menggenjot pembangunan infrastruktur, namun, kondisi DER ini harusnya membuat kita berhati-hati saat berinvestasi jangka panjang di saham ADHI..

Kualitas Manajemen ADHI Karya

Kasus Hambalang yang menyeret Mantan Direktur Operasi I PT Adhi Karya Teuku Bagus Mokhamad Noor, dan membuatnya divonis penjara empat tahun dan enam bulan karena dinilai terbukti menyalahgunakan kewenangannya dalam proyek Pusat Pendidikan, Pelatihan dan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON) di Bukit Hambalang sangatlah layak untuk kita perhatikan. Proyek Hambalang yang begitu besar dan membutuhkan begitu banyak modal , menurut kami mustahil dilakukan tanpa sepengetahuan manajemen utama perusahaan. Dan bila hal seperti diatas terjadi berulang, bisa kita simpulkan bahwa perusahaan itu mempunyai budaya Kerja yang Kurang Baik..

Selain kasus Korupsi, Manajemen sebuah perusahaan Konstruksi bisa kita nilai dari jumlah piutang bermasalah nya..

Kenapa demikian?

Karena untuk menyetujui suatu proyek konstruksi, harusnya manajemen memeriksa kekuatan keuangan perusahaan pemberi kerja dan harus mencantumkan perjanjian pembayaran per waktu kemajuan proyek. Tidak adanya standar baik yang ditetapkan kepada perusahaan pemberi kerja, bisa menggaggu kondisi keuangan perusahaan Konstruksi itu sendiri akibat piutang tak tertagih yang jumlahnya besar..

Sayangnya, dari tiga perusahaan Konstruksi BUMN terbesar di Indonesia, ADHI adalah perusahaan dimana jumlahnya piutang bermasalahnya paling tinggi . Hal ini harusnya menjadi isyarat kuat akan lemahnya budaya GCG di PT.ADHI Karya..

PT ADHI Karya, 2013 :

Rating kinerja bisnis   :  B

Rating Keuangan        :   C

Rating manajemen     :   D

 

@dr_BramIrfanda

^ utk update artikel analisa saham melalui Telegram, silakan Join Irfanda Capital on telegram

Beberapa waktu kedepan, kami akan menganalisis emiten Konstruksi di BEI selain ADHI dan akan mempostingnya di blog ini. UNTUK MENDAPAT KIRIMAN EMAIL GRATIS UPDATE ARTIKEL TERBARU irfanda.id , MASUKKAN EMAIL KE FORM DIBAWAH  INI

Subscribe to Blog via Email

GRATIS! utk berlangganan gratis, Masukkan email anda di form dibawah ini, lalu klik link konfirmasi berlangganan yang kami kirim ke email anda

Tagged: , , , , ,

Leave a Reply