Suku Bunga Rendah : Efek Bencananya I Irfanda Capital

Suku Bunga Rendah : Efek Bencananya

Bila anda sering membaca berita tentang ekonomi dunia terutama Amerika Serikat atau memfollow twitternya Presiden US Donald Trump, maka anda pasti tau kalo donald Trump ingin agar FED – Bank Indonesianya Amerika Serikat- menurunkan suku bunga FED Rate sampai 0 , atau bahkan sampai minus..

Untuk apa Donald Trump menginginkannya?

Trump ingin Perekonomian Amerika serikat, tumbuh lebih besar dari tingkat pertumbuhannya yang sekarang sehingga terhindar dari krisis ekonomi akibat perang dagang yang ia ciptakan..

Mungkin bagi anda yang tidak kuliah di jurusan ekonomi akan timbul pertanyaan, Lantas kenapa BI tidak menurunkan suku bunga BI rate menjadi 0 aja kalo memang bisa menstimulus perekonomian?

Karena kita hidup di dunia -bukan di surga- maka Seperti semua hal lain yang baik, suku bunga rendah pun, menyimpan kelemahan..

Bila suku bunga rendah diterapkan dalam jangka panjang, maka efek stimulus yang terjadi bisa berlebihan dan mengakibatkan bencana besar..

Seperti yang kita jelaskan dalam efek positif suku bunga rendah kemarin, penerapan suku bunga rendah bisa menyebabkan konsumsi meningkat karena jumlah uang yang dibelanjakan meningkat. Nah, tingkat konsumsi yang meningkat drastis, bisa membuat demand atau permintaan melebihi jumlah penawaran. Sesuai dengan hukum ekonomi, Bila jumlah permintaan meningkat dan jumlah penawaran tetap maka harga akan naik..

Kebijakan suku bunga rendah yang dilakukan bertahun-tahun, bisa membuat harga naik terus menerus. Kenaikan harga yang tinggi, bisa menyebabkan makin banyak orang ingin ikut merasakan kenaikan harga itu dengan ikut-ikutan membeli, walau harga sudah naik tinggi..

Harga yang sudah tinggi, bisa terus naik dan naik lagi, bila suku bunga tetap rendah, karena orang walaupun tidak punya duit, bisa berhutang. Pikirnya, toh suku bunga rendah, jadi besaran bunga cicilannya kecil..

Bila banyak orang berpikir seperti diatas, maka harga akan naik terus sampai terjadi bubble atau gelembung ekonomi..

Saat puncak gelembung ini, maka orang-orang yang membeli di harga bawah akan menjadi merasa sangat kaya, sangat pede dan sangat cerdas..

Tapi tentu saja, semua pesta, seasik apapun jalannya, pasti harus berakhir..

Dan gelembung atau bubble ekonomi itu pasti meletus..

Proses pecahnya Ekonomi biasanya sama seperti proses pembentukan bubble ekonomi dengan arah yang berbeda..

Harga-harga yang sudah mencapai langit, protes banyak orang -yang tidak mendapat durian runtuh dan cipratan uang dari bubble- akan tidak terjangkaunya harga barang yang mereka butuhkan, akan membuat Bank central dan pemerintah membuat kebijakan untuk mengerem Inflasi atau kenaikan harga. Dan Bank Central pun mulai menaikkan tingkat suku bunga..

Kenaikan tingkat suku bunga, membuat spekulan menjadi takut untuk membeli dengan hutang berbunga, akibatnya harga menjadi tidak bisa naik tinggi alias datar..

Harga yang tidak lagi naik tinggi, memadamkan keinginan spekulan lain untuk melakukan pembelian. Akibatnya harga menjadi stagnan..

Harga yang stagnan, membuat orang-orang yang dulu membeli banyak dengan harga mahal, mulai takut dan khawatir, kenapa harga tidak juga naik..

Kekhawatiran itu semakin membuncah, setelah cicilan hutangnya semakin membesar akibat bank central yang secara bertahap menaikkan suku bunga untuk mengendalikan harga..

Karena tidak kuat lagi menanggung kenaikan besaran bunga hutang, maka orang yang membeli dipuncak harga mulai menjual barangnya. Dan bila penjualan ini dilakukan oleh banyak orang secara bersamaan maka akan mengkibatkan harga turun, karena penawaran yang lebih besar daripada permintaan..

Penurunan harga yang masih awal ini, akan membuat orang-orang yang membeli di puncak makin deras menjual barangnya, yang akan membuat harga semakin turun kebawah..

Penurunan harga ini, akan membuat bank dan lembaga keuangan yang meminjamkan uang, menilai ulang nilai agunan. Hal ini bisa berakibat pada makin besarnya besaran bunga yang harus dibayar oleh mereka yang membeli barang dengan uang pinjaman..

Efek berantainya, makin banyak orang yang menilai dirinya tidak sanggup lagi membayar cicilan yang semakin membesar seperti ini dan mulai melakukan penjualan..

Akibatnya harga makin turun, bahkan sampai kedasar akibat efek berantai diatas..

Harga yang anjlok ini dan efek berantainya, akan membuat banyak orang bangkrut, bahkan kehilangan segalanya..

Skenario di ataslah yang terjadi pada pasar properti amerika pada awal tahun 2000an sampai meletus di 2008, yang mencetuskan great recession di amerika serikat dan seluruh dunia..

Dengan efek bencana dahsyat seperti ini, masihkan anda ingin suku bunga diturunkan sampai 0?

“Suku Bunga Rendah : Efek Positifnya – Irfanda Capital”

Suku Bunga Rendah : Efek Positifnya

Bila anda cukup sering membaca berita tentang ekonomi Amerika Serikat atau follow twitternya Presiden US Donald Trump, maka anda pasti tau kalo donald Trump ingin agar FED – BI-nya Amerika Serikat- menurunkan suku bunga FED Rate sampai 0 , atau bahkan ingin membuatnya sampai minus..

Lalu apa motivasi trump untuk melakukannya?

Trump ingin Perekonomian Amerika serikat, tumbuh lebih besar dari tingkat pertumbuhannya yang sekarang..

Mungkin anda bertanya, Kok bisa?

Pemerintah dan Bank Central suatu negara bisa melakukan stimulus perekonomian dengan melakukan stimulus fiscal –stimulus yang berhubungan dengan keuangan pemerintah, seperti penurunan pajak, proyek padat karya, dll- atau stimulus moneter –stimulus yang dilakukan terutama lewat mengatur suku bunga dan jumlah pasokan uang di pasar-.

Stimulus Moneter berupa penetapan Suku Bunga yang rendah membuat biaya berhutang menjadi rendah. Biaya berhutang –biaya bunga- yang rendah, membuat perusahaan dan orang pribadi yang berhutang, mempunyai lebih banyak uang untuk dibelanjakan..

Akibatnya, daya beli meningkat, konsumsi meningkat dan perekonomian terangkat..

Contoh penerapan kebijakan suku bunga rendah adalah penurunan suku bunga BI rate saat krisis 2008, dimana di akhir 2008 dan awal 2009, BI secara rutin menurunkan suku bunganya. Kebijakan penurunan suku bunga dan kebijakan fiskal yang diambl BI berhasil membuat Indonesia tetap menjaga pertumbuhan ekonomi di angka lebih dari 4%, yang menjadikan nama Indonesia berkibar saat itu..

Contoh berikutnya adalah penerapan penurunan suku bunga di Amerika Serikat, dengan penurunan FED rate sampai mendekati 0 saat terjadi krisis 2008.

Terdengar menjanjikan ya..

Lantas kenapa BI tidak menurunkan suku bunga BI rate menjadi 0 aja kalo memang bisa menstimulus perekonomian?

Karena penerapan suku bunga rendah juga bisa membawa bencana yang besar, bila dilakukan di saat yang tidak tepat..

Apa Efek buruk penerapan suku bunga rendah? insyaAllah akan kita bahas minggu depan . . .

Harga Saham PSSI Sudah Murah? – BIA #96

Harga saham PT Pelita Samudera Shipping Tbk., PSSI, mencapai angka diatas 200/saham pada bulan lalu, maret 2019. Apakah harga saham PSSI akan segera kembali ke 200an? (more…)

Bahaya Saham SSMS, Sadarkah anda? – BIA #95

Harga Saham PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk., SSMS, sudah turun 55% dari harga tertingginya di tahun 2015. Apakah harga saham SSMS sudah undervalue?

(more…)

Harga Saham DSNG, Undervalue? – BIA #95

Harga saham PT Dharma Satya Nusantara Tbk. atau DSN Group, DSNG, sudah turun lebih 60% dari posisinya di april 2015. Apakah Harga saham DSNG sudah undervalue?

(more…)