Saham Dalam Sebuah Angkringan

Dalam masa pasar Bullish ( pasar saham yang naik terus ) seperti sekarang, banyak pemula ingin ikut masuk ke pasar saham dan ikut menikmati keuntungan dari pasar saham. Namun, seperti semua pasar yang sedang rame, banyak orang yang tertarik mencari uang dipasar itu baik sebagai penjual, pembeli, maupun pelaku kejahatan seperti copet, penipu, dll.

Apa yang harus dilakukan oleh mereka yang termasuk golongan pemula ini saat masuk ke pasar saham?
Yang terpenting adalah seorang pemula di pasar saham harus terlebih dahulu memahami dasar- dasar pasar dan investasi saham di antaranya adalah memahami apa itu saham 

Pada memo kedua ini saya akan berusaha menjelaskan apa itu saham 


Saham adalah bagian dari kepemilikan suatu perusahaan. Biar lebih mudah dimengerti mari kita pakai contoh kasus nyata yang bisa kita jumpai di kehidupan nyata. Ada 2 orang lulusan SMK, sebut saja Sule, 18 tahun dan Andre, 18 tahun keduanya teman sebangku di SMK, berencana setelah lulus SMK membuka angkringan di pinggir jalan di sekitar kawasan kampus di Jogja. Setelah mereka hitung- hitung modal bersih yang dibutuhkan untuk modal bisnis angkringan adalah Rp 10.000.000. Agar usahanya kelihatan bonafit mereka bersepakat mendirikan PT ( Perusahaan Terbatas ) untuk jadi payung bagi usaha angkringan mereka  yang bernama PT Opera Van Java.
Di PT ini, yang bermodalkan Rp 10.000.000 mereka berdua menerbitkan 1.000 saham dengan nilai Rp 10.000 per saham . Sule sepakat menyetor modal sebesar 500 saham atau Rp 5,500.000. Sedangkan Andre menyetor modal sebesar 450 saham atau Rp 4.500.000. Keduanya kemudian berbisnis bersama membesarkan bisnis angkringan OVJ itu.
Di tahun 2019 angkringan OVJ mencatatkan laba bersih Rp 100.000.000 per tahun. Sule dan Andre yang merasa gembira atas pencapaian itu, lantas cerita ke teman- temannya kalau usaha angkringanya yang selama ini mereka tekuni sudah mendapatkan laba Rp 100.000.000 di tahun 2019.
Mendengar cerita dari Sule dan Andre, Nunung, salah seorang teman mereka tertarik membeli saham angkringan OVJ dari mereka berdua. Sule menawarkan sahamnya kepada Nunung seharga Rp 1.000.000 per saham. Nunung pun menolak karena merasa kemahalan. kemudian Nunung menghubungi Andre untuk membeli sahamnya, Andre pun meminta Rp 800.000 per saham. Karena merasa harga yang ditawarkan masih mahal Nunung menawar diharga Rp 500.000 persaham. Akhirnya Andre melepas sahamnya di harga Rp. 500.000 per saham sebanyak 100 lembar kepada Nunung karena Andre butuh uang untuk beli sepeda motor baru. Dengan pnejualan saham ke Nunung maka perusahaan OVJ jadi bernilai Rp 800.000.000. 

Kemudian tahun 2020 pun datang…..
Kemudian pandemi Covid-19 pun datang…. 

Kawasan kampus di Jogja yang menjadi senjata utama angkringan OVJ mendadak sepi karena kuliah berubah menjadi online. Maka di akhir 2020, angkringan OVJ hanya mencatatkan laba bersih Rp. 50.000.000 selama setahun. Di awal 2021, Nunung yang butuh uang untuk biaya pernikahanya, ingin menjual 100 lembar saham angkringan OVJ yang Ia miliki. Nunung berusaha menawarkan saham Angkringan OVJ ke Sule, Andre, dan teman-teman lainnya di harga Rp 750.000 per saham. Namun tidak ada yang mau membeli saham milik nunung di harga Rp 750.000 sesuai yang Nunung inginkan. Saat itu saham Nunung hanya ditawar dibawah harga Rp 100.000 per saham yang membuat Nunung enggan menjualnya. Setiap hari ada yang menawar saham Nunung di OVJ seharga Rp 50.000 sampai Rp 100.000 per saham, yang menurut Nunung tidak masuk akal. Karena tanggal pernikahannya sudah dekat dan Nunung sangat perlu uang untuk membayar biaya Catering, maka Nunung terpaksa menjual sahamnya di harga Rp 200.000 per saham kepada Aziz sebanyak 100 lembar. Aziz berpendapat bahwa angkringan OVJ belum akan mendapat laba bersih lebih dari Rp 100.000.000 lagi sampai kuliah tatap muka kembali bergulir. karena itu Ia hanya mau membayar saham angkringannya 200.000 per saham.
Jadi di awal tahun 2021 pemilik saham angkringan OVJ adalah Sule sebanyak 550 saham, Andre sebanyak 350 saham, Aziz 100 saham.
Dari ilustrasi di atas maka saham itu :
1. Saham adalah bagian kepemilikan dari perusahaan yang nilainya dalam jangka panjang berfluktuasi tergantung kinerja perusahaannya 

2. Perubahan harga harian tidak penting selama kinerja perusahaan tidak berubah 

3. Harga saham yang ditawarkan oleh orang yang ingin membeli bisa kita tolak kalau kurang mahal 

Persamaan Saham Dan Hijrah

Hanya dalam kurun waktu 1 tahun di sepanjang tahun 2020, ada penambahan jumlah investor saham di Bursa Efek Indonesia sebesar 53,47% lebih tinggi dari jumlah investor di akhir tahun 2019 atau naik sebanyak 590.658 SID.

Namun, berdasarkan pengalaman dimasa silam khususnya sejarah pasar saham yang sudah sangat tua seperti di Amerika. Nantinya mayoritas investor baru ini akan banyak yang berguguran alias kapok menaruh uangnya di pasar saham.

Pertanyaannya, mengapa prediksi muram ini bisa menjadi kenyataan ?

Jawaban dari pertanyaan ini sama persis seperti jawaban atas pertanyaan : Kenapa orang yang beberapa bulan lalu atau tahun lalu mengaku sudah hijrah sekarang menghilang dan kembali lagi ke duniannya yang dulu.

Jawaban dari kedua pertanyaan diatas adalah bila orang itu tidak mau menuntut ilmu maka Ia tidak akan bisa bertahan lama baik di saham maupun saat hijrah.

“Dan bagaimana Engkau Akan dapat bersabar atas sesuatu, sedang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu”
Q.S Al- kahfi : 68


Pasar Bullish sejak akhir maret 2020 pasti tidak mungkin berlangsung selamanya. Ketika pasar bearish datang, yang akan membuat pasar dan harga saham turun terus hampir setiap hari mereka yang tidak belajar tentang saham dengan cukup akan lari ketakutan keluar dari pasar saham, jual rugi, bersumpah serapah tidak akan mau lagi berinvestasi di pasar saham bahkan bunuh diri.

Hal ini sama seperti hijrah.

Hanya mereka yang mau belajar tentang islam dari dasar, pertama mulai dari aqidah (keimanan), kemudian adab (cara bersikap), kemudian akhlak, kemudian ibadah, dan baru kemudian muamalah (hubungan dengan sesama manusia) yang akan bertahan menghadapi berbagai cobaan setelah hijrah.

Bagi Anda investor baru di IDX saya dengan tulus mengucapkan selamat datang..

Dan agar Anda bisa bertahan di pasar saham sampai berpuluh tahun yang akan datang, mulailah belajar tentang saham dan fundamentalnya mulai dari sekarang.

Kalau tidak, saya khawatir suatu saat saya harus mengucapkan selamat tinggal.

Margin of Safety : Mengenal Seth Andrew Klarman

Margin of Safety merupakan buku karya Seth A Klarman yang jadi salah satu rujukan wajib bagi mereka penganut value investing. buku ini menjelaskan teori – teori investasi, jebakan di bursa saham dan cara untuk menghindari jebakan tersebut.

Seth A Klarman lahir pada tahun 1957, satu angkatan dengan Steve Jobs dan Bill Gates.

Bibit menjadi seorang milyader sudah terlihat pada diri Seth Klarman saat berusia 4 tahun, dimana ia mendekorasi kamarnya seolah menjadi toko ritel dengan memasang label harga pada semua barang miliknya. Selain itu pada usia 10 tahun ia sudah membeli saham pertamanya dan ketika berusia 11 tahun ia memberikan ceramah bagaimana cara beli saham di depan teman sekelasnya. Bahkan, ketika Seth Klarman berusia 12 tahun, Ia secara teratur menelepon brokernya untuk mendapatkan penawaran harga saham. Sejak SD Seth Klarman telah pandai mencari peluang bisnis dengan menawarkan jasa seperti menjadi loper koran, membuka stand es puter, menjual skop saat musim salju, dan memiliki usaha kecil penjualan perangko serta koin koleksi.

Setelah lulus SMA, Seth Klarman mengambil S1 di Universitas Cornell mengambil jurusan bidang ekonomi dan sejarah. Padahal ia sebenarnya ingin mengambil matematika tetapi untuk lebih memperdalam ilmu bisnisnya, Ia mengambil jurusan Ekonomi. Ayah Seth Klarman sendiri adalah seorang professor ekonomi. Kemudian, setelah lulus S1, Seth Klarman mengambil MBA di Harvard Bisnis School (HBS), bareng jamie dimon (CEO JPmorgan Chase, Steve Burke (chairman NBCuniversal & vice president comcast) dll. Saat menempuh pendidikan S2 ini, Ia dapat baker scholar atau 5 % terbaik dari angkatannya di HBS.

Saat menempuh pendidikan S1, Ia sempat magang di salah satu perusahaan obligasi yaitu mutual series fund yang digawangi oleh Max Heine dan Michael Price. Mereka merupakan sosok yang sangat terkenal di Value investor terutama tahun 1980.
Kemudian setelah lulus, Ia kembali ke perusahaan tempatnya magang dulu, untuk bekerja selama 18 bulan sebelum memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di Harvard Business School. Jadi Seth Klarman sejak awal umur 20an sudah dimentori oleh Max Heine dan Michael Price, value investor hebat dan terkenal. Seth Klarman mengatakan bahwa selama 2 tahun bekerja dengan Max Heine dan Michael Price, ilmu yang didapat jauh lebih banyak daripada yang Ia pelajari di Harvard Bussines School.
Pada tahun 1982, setelah lulus S2 Seth Klarman diajak oleh professor Poorvu untuk bergabung di Baupost Group. Baupost Group sendiri memiliki kepanjangan Jordan Baruch, Auerbach, Poorvu dan Stevenson. Modal awal sendiri saat mendirikan Baupost Group sendiri sebesar $ 27.000.000 di Amerika dengan gaji awal $ 35.000 setahun. Sebenarnya Seth Klarman mendapat beberapa penawaran dengan gaji yang besar, namun Ia memilih menjadi Fund Manager di Baupost Group.
Yang lebih menajubkan dari tahun 1982- sekarang, Seth Klarman mendapat Keuntungan rata-rata 20% pertahun, dimana mampu mengalahkan Benjamin Graham dan lainnya. Tentu saja kita tidak bisa membandingkan Seth Klarman dengan Warren Buffet, Karena Warren Buffett jauh lebih hebat dalam hal catatan returnnya.
Seth Klarman juga mempunyai gaya yang bebeda dengan Waren Buffet. Dimana Seth Klarman lebih mirip Benjamin Graham, sedangkan Warren Buffet lebih mirip dengan Charlie munger. Seth Klarman dan Benjamin graham lebih suka dan percaya pada angka di laporan keuangan serta ingin berinvestasi jangka menengah, sedangkan Warren Buffet yg sekarang lebih mementingkan kualitas bisnis dan membeli untuk memiliki selamanya .
Pada tahun 2020 Boupost Group memiliki under manajemen USD $ 31 milyar, dengan kekayaan pribadi US $ 1,5 Milyar

Buku margin of safety ini akan mengungkap rahasia Seth Klarman menjadi Trilyuner dari pasar saham, yg bisa kita jadikan pelajaran

Pembahasan Buku 100 Baggers Christopher Mayer | Bab 1 Part 1

Untuk pembahasannya simak video berikut:

Pembahasan Buku The Snowball Warren Buffett | BAB 19 Part 1

Untuk Pembahasannya simak video berikut: