Saham GJTL Turun, Sudah Murah? | BIA #56

Di tahun 2011-2012, harga saham PT Gajah Tunggal Tbk. , GJTL, sedang berada di harga tinggi, yakni sampai diatas 3000/ saham. bahkan sempat mencapai puncak di 3275/saham

Menariknya, saat ini harga saham GJTL sudah turun hingga berada di 1295/ saham.

Pertanyaannya, apakah GJTL secara valuasi udah murah? atau harganya  masih harus turun lagi agar menarik?

GJTL adalah salah satu perusahaan tertua di indonesia yang mampu bertahan melewati banyak tantangan ekonomi. Sejak berdiri di tahun 1950, GJTL mampu beradaptasi dengan baik ketika muncul beberapa perubahan di pasar ban. Di masa awal, karena yang banyak beredar di indonesia adalah sepeda, maka GJTL berfokus pada ban sepeda. Hal yang sama terjadi ketika pasar Indonesia lebih beralih ke sepeda motor dan lalu mobil. Dari fakta ini, kita bisa menarik kesimpulan kalo GJTL adaptif terhadap perubahan, yang mana merupakan hal yang baik di dunia yg begitu cepat berubah.

Kekuatan merk GT radial sebagai amunisi utama GJTL juga sangat baik, karena selalu masuk 3 atau 5 besar merek terbaik di pasar ban mobil. Merek ban GT radial, Gajah tunggal dan Ban sepeda motor IRC adalah merek utama andalan GJTL. Sayangnya IRC bukanlah merek ban milik GJTL,  namun kepunyaan Inoue Rubber Company Jepang, selaku pemilik merek IRC. Karena GJTL menggunakan merk perusahaan lain, maka margin keuntungan GJTL pasti tidak bisa tinggi. Untuk mengatasi hal ini, GJTL mengembangkan merek Zeneos di pasar ban sepeda motor untuk meningkatkan laba

Walaupun memiliki beberapa merek jawara di pasarnya, sayangnya GJTL tidak dapat menikmati margin keuntungan besar layaknya Unilever Indonesia , UNVR. Tidak seperti UNVR yang sangat baik dalam hal kemampulabaan, GJTL masih tergolong kurang baik dalam hal kemampulabaan.

GJTL menghadapi persaingan yang berat dari beberapa merek ban dunia seperti Dunlop dan bridgestone di pasar ban mobil yang uniknya mempunyai harga yang tidak beda jauh seperti GT radial. Di pasar ban sepeda motor, hal yang sama harus juga dihadapi oleh merek IRC.

Untuk pasar ekspor, apa yang harus di hadapi GJTL pun setali tiga uang. Michelin sebagai konsumen terbesar ban GJTL untuk pasar ekspor, memborong sampai 30an % produksi total ban GJTL dalam setahun. Namun, karena yang dijual ke michelin adalah ban ‘curah’ tanpa merek, pasti GJTL tidak bisa meraup margin keuntungan yang besar. apalagi, bila kita menilik status michelin yang membeli jutaan buah ban tiap tahun, adalah juga merupakan pemegang saham terbesar kedua GJTL

Seperti halnya industri ban pada umumnya, mayoritas biaya produksi GJTL adalah dari bahan baku. Pada tahun 2015, bahan baku mencakup 65,3% dari total biaya produksi. Komponen lain dalam struktur biaya produksi perusahaan adalah tenaga kerja (12,1%), energi (10,3%), depresiasi (5,1%) dan biaya overhead lainnya (7,2%).

Bahan baku utama yang diperlukan dalam proses pembuatan ban adalah karet alam, karet sintetis, kain ban, karbon hitam, kawat baja dan bahan kimia pengolah karet lainnya. Pada tahun 2015 karet alam, karet sintetis, kain ban dan karbon hitam menyumbang masing-masing 24,6%, 25,3%, 14,7% dan 13,7% dari total biaya bahan baku divisi ban.

Dari 4 komponen utama bahan baku pembuatan ban diatas, total jendral sudah mencapai 78% dari total biaya bahan baku. Ketika harga karet alam dan minyak bumi naik, GJTL akan terhimpit oleh masalah kenaikan biaya bahan baku, karena keempat kompenen utama tadi mayoritas dibuat dari minyak bumi dan karet alam. Tentu saja, Bila kenaikan harga minyak bumi dan karet alam cukup signifikan, keuntungan GJTL akan ikut tergerus keadaan..

Disamping persaingan keras dengan merek saingan dalam pasar Ban. GJTL masih dibebani oleh tingginya beban keuangan akibat besarnya Hutang berbunga yang ditanggung perusahaan. Tingginya beban bunga dan denominasi hutang plus bunganya yang berupa USD, membuat GJTL berpotensi mengalami kerugian ketika nilai rupiah turun terhadap USD. Hal ini adalah yang terjadi ketika rupiah melemah di tahun 2015 silam.

Saat ini, GJTL masih menanggungi obligasi Senior Secured Notes sebesar USD500.000.000 yang jatuh tempo di tahun 2018. Obligasi ini merupakan refinancing dari hutang obligasi lama, Callable Stepup Guaranteed Secured Bonds milik GTBonds, entitas anak, sebesar USD435.089.000 yang jatuh tempo di 2014. Akibat obligasi usd500 juta ini, DER GJTL menyentuh angka 2, yang tergolong cukup mengkhawatirkan.  Bagi yang belum lama mengenal GJTL, hutang obligasi GJTL yang bernilai setara atau lebih dari 50% liabilitas, seperti kondisi GJTL saat ini, adalah hal yang biasa bagi GJTL. Di masa krisis seperti tahun 2008, hutang obligasi berdenominasi USD ini tentu saja membuat masalah besar bagi GJTL. Uniknya, sampai sekarang tidak ada tanda-tanda GJTL bakal melunasi hutang obligasinya itu. Bisa dibilang, meminjam istilah ‘duri dalam daging’, hutang Obligasi ini layak disebut ‘duri dalam gajah’ bagi GJTL 😀

Persaingan keras yang menjadi perang harga di pasar ban, tingginya beban bunga,dan  kenaikan biaya bahan baku membuat GJTL hanya mencatatkan ROE dibawah 6% pada 3 tahun terakhir. Penurunan sedikit saja pada omset penjualan produk GJTL atau kenaikan nilai tukar USD terhadap rupiah, sudah bisa membuat GJTL mengalami kerugian seperti yang terjadi pada tahun 2015. Tentunya hal ini membuat saham GJTL tidak menarik bila harganya kemahalan.

Bila ada yang harus diperbaiki, menurut kami sebaiknya GJTL mengembangkan team marketingnya untuk menjadi lebih tangguh, sehingga bisa menjadi ‘Unilever-nya industri ban‘. Selain itu, tentu saja, akan lebih baik bila GJTL bisa mengurangi eksposure hutang berbunganya, minimal mengubahnya menjadi denominasi rupiah agar lebih aman. Tentu saja, dua saran ini membutuhkan usaha hebat untuk diwujudkan, namun hasilnya pasti akan pantas, minimal setara dengan kesulitannya.

Saat ini, di harga rp.1295/saham, GJTL mempunyai market cap rp.4,513 trilyun yang berarti PBV hanya 0,83. Namun, mengingat di beberapa bulan kedepan masih akan ada peningkatan FED rate, agaknya akan beberapa goncangan lagi yang akan membuat harga saham GJTL kembali kebawah.

Jadi, buat anda yang tertarik saham GJTL, sepertinya masih ada banyak kesempatan masuk saat saham GJTL turun kebawah di masa depan..

 

PT Gajah Tunggal Tbk, 2016

rating bisnis : B

rating keuangan : C

rating manajemen : B

rating harga saham : B

 

 

@dr_BramIrfanda

^ utk update artikel analisa saham melalui Telegram, silakan Join Irfanda Capital on telegram

Setiap minggu, kami akan menulis analisis saham fundamental emiten BEI dan akan mempostingnya di blog ini. Untuk MENDAPAT KIRIMAN EMAIL GRATIS UPDATE ARTIKEL TERBARU irfanda.id , silakan masukkan email anda ke form dibawah ini

Subscribe to Blog via Email

GRATIS! utk berlangganan gratis, Masukkan email anda di form dibawah ini, lalu klik link konfirmasi berlangganan yang kami kirim ke email anda

Tagged: , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply