Kupas Tuntas Harga Saham LPCK : Sudah Murah?

Di forum-forum saham, banyak orang menyarankan kita membeli saham PT Lippo Cikarang tbk., LPCK, karena PBV LPCK berada dibawah 0,4 dengan proyek2 yang menarik seperti meikarta. Apakah harga saham LPCK sudah murah?

Untuk lebih jelasnya, mari kita cek Laporan keuangan LPCK Q3 2017..

Di sana, terdapat angka aset lancar rp.9,5 Trilyun, dengan kas berjumlah rp.400 Milyar. Sedangkan akun aset tidak lancar sebesar rp. 1,25 Trilyun. Yang menarik adalah, adanya pembengkakan Jumlah Aset Lancar dari rp. 4,5 Trilyun menjadi rp. 9,5 Trilyun..

Masalahnya, darimana asal pembengkakan aset lancar LPCK ini?

Setelah saya bedah satu-satu, ternyata ada beberapa akun ‘unik’ di Neraca LPCK Q3 2017, diantaranya :

1. Aset Keuangan Lancar Lainnya sebesar rp.1,79 Trilyun

Aset Keuangan Lancar Lainnya LPCK berisi dua akun dengan jumlah terbesar yakni Piutang PT Metropolis Propertindo Utama sebesar rp.1,43 Trilyun dan Piutang Kontraktor rp.297 Milyar. Di catatan Laporan keuangan LPCK, terdapat penjelasan seperti ini :

“Pada tanggal 1 Maret 2017, PT Mahkota Sentosa Utama (MSU), entitas anak, telah menandatangani kesepakatan dengan PT Metropolis Propertindo Utama (MPU), pihak ketiga, untuk tujuan pengadaan sejumlah tanah sesuai kebutuhan MSU untuk pengembangan dan pembangunan proyek Meikarta, Bekasi, Jawa Barat. Sampai dengan tanggal 30 September 2017, total dana yang sudah disetorkan ke MPU adalah sebesar Rp1.430.950 Sesuai dengan kesepakatan tersebut, dalam hal MPU tidak dapat memperoleh tanah sesuai kriteria MSU sampai dengan tanggal 31 Maret 2018, maka MPU wajib menyediakan dan menyerahkan tanah MPU sendiri yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan atau mengembalikan dana tersebut kepada MSU. Pengembalian dana sebagaimana disebut di atas, dilakukan dalam waktu jangka pendek dan tidak dikenakan bunga.”

Anda melihat ‘keunikan’ nya?

Bukannya Perusahaan Properti adalah pembeli dan pencari lahan terbaik di dunia?

Kenapa perusahaan sebesar LPCK yang sudah berpengalaman puluhan tahun, menitipkan duit rp.1,43 Trilyun di perusahaan ‘pihak ketiga’?

Karena beberapa pertanyaan ini menghantui saya, maka saya carilah tentang MPU dan akhirnya menemukan kalimat “PT Metropolis Propertindo Utama is a subsidiary of Lippo Limited” di website creditriskmonitor..

Dan.. Kabut pun mulai menghilang..

2. Beban Dibayar di Muka sebesar rp.1,4 Trilyun

Di dalam Aset lancar LPCK, terdapat akun Beban Dibayar di Muka sebesar rp.1,43 Trilyun. Dari jumlah ini, ternyata berisi Iklan dan Pemasaran/ Advertising and Marketing dibayar di muka sebesar rp. 1,41 Trilyun

Masalahnya, bukannya pemasangan iklan itu normalnya bayar nya sesuai tagihan dari iklan yang tampil?

kenapa malah belanja iklan setahun dibayar di awal?

Kenapa tidak ada rincian uang segini untuk TV A, segini untuk TV B, segini untuk TV C?

Bukannya pengeluaran iklan itu normal ya untuk perusahaan properti, kenapa harus di masukkan sedemikian besar di kolom aset lancar? bukannya harusnya di biaya yang mengurangi laba?

mmmh…Terasa agak janggal ya..

Baca Juga :

 

3. Ada akun Komponen Ekuitas lain sebesar rp. 2,5 Trilyun

Jumlah ekuitas LPCK di Q3 2017 membengkak 70% menjadi 7,2 Trilyun dari 4,24 Trilyun di akhir 2016. Hal ini terjadi karena adanya Komponen Ekuitas Lain sebesar rp. 2,5 Trilyun. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan komponen ekuitas lain ini, mari kita cek keterangan sesuai yang tercantum di LK LPCK,,

“Berdasarkan perjanjian para pemegang saham PT Mahkota Sentosa Utama (MSU), entitas anak, tanggal 1 Februari 2017, PT Megakreasi Cikarang Permai (MKCP) dan PT Great Jakarta Inti Development (GJID), keduanya entitas anak, menyetujui masuknya pemegang saham baru yaitu Peak Asia Investment Pte. Ltd (PEAK), entitas anak, melalui penerbitan saham baru MSU. Bagian saham yang akan diambil oleh PEAK tidak melebihi 50% dari jumlah kepemilikan saham yang diterbitkan oleh MSU.. Kemudian berdasarkan perjanjian jual beli bersyarat tanggal 10 Maret 2017, Perusahaan menyetujui keterlibatan Hasdeen Holdings Ltd (HH), sebuah perusahaan yang didirikan di British Virgin Islands, dalam proyek baru MSU melalui penempatan investasi saham pada PEAK yang akan diterbitkan kemudian. Partisipasi tidak langsung HH melalui PEAK sebesar USD300,000,000 akan diangsur terhitung sejak ditandatanganinya perjanjian ini sampai dengan tanggal 31 Desember 2018. Berdasarkan perjanjian investasi pada tanggal 15 Maret 2017, antara MKCP, GJID dan PEAK sepakat masuknya Masagus Ismail Ning (IN) sebagai pemegang saham baru di MSU dengan penjualan 3 saham PEAK kepada IN dengan harga nominal. GJID menjual seluruh sahamnya kepada MKCP dan PEAK mengesampingkan pre-emptive right yang dimilikinya. Terkait dengan rencana pengeluaran saham baru dari MSU, MKCP menyetujui untuk tidak menggunakan haknya. Atas penerbitan saham MSU, HH akan membiayai PEAK sebesar USD300,000,000 untuk memperoleh seluruh saham baru yang akan diterbitkan oleh MSU. Sehingga kepemilikan PEAK, MKCP dan IN adalah masing-masing sebesar 49,99%,49,99% dan 0,02%. Sampai dengan tanggal 30 September 2017, MSU telah menerima dana dengan jumlah keseluruhan sebesar Rp2.496.327 terkait transaksi di atas yang dicatat sebagai uang muka setoran modal dalam akun komponen ekuitas lainnya. MSU akan mencatat konversi atas uang muka setoran modal tersebut sebagai penambahan modal saham disetor HH melalui PEAK setelah efektifnya akta peningkatan modal dan perubahan pemegang saham sesuai”

Dari point nomor 1 dan 3, kelihatan benang merah penggunaan anak usaha LPCK yang bernama PT Mahkota Sentosa Utama (MSU). Bila kita menengok kembali Laporan Tahunan LPCK 2016, maka MSU adalah anak perusahaan LPCK yang bidang usahanya Pemasaran dan Pengelolaan Gedung/ Marketing and Building Management dengan aset rp. 1,2 Milyar..

Lalu Siapakah Hasdeen Holdings Ltd (HH) dan Masagus Ismail Ning (IN)?

Masagoes Ismail Ning adalah pengusaha yang merupakan putra dari alm. Hasjim Ning dan Presiden Komisaris di PT Metropolis Propertindo Utama sekaligus pernah menjadi Komisaris PT Bank Lippo Tbk (1996-2003)..

Sudah jelas sekarang bagaimana kaitannya?

Jadi, agar valuasi saham kita lebih objektif, maka komponen nomor 1, 2 dan 3 diatas harus kita hilangkan dari perhitungan..

Maka akan kita temukan, jumlah aset lancar LPCK di Q3 2017 adalah sebesar rp. 6,7 Trilyun dan ekuitas LPCK sebesar rp. 4,68 Trilyun..

Dari angka yang lebih real ini, maka di harga saham 3400/ lembar dan market cap rp.2,37 Trilyun, maka PBV LPCK adalah 0,5..

Kelihatan Murah ya,,,

Tapi ingat, akan ada Right issue LPCK dengan bentuk HMETD [hak memesan efek terlebih dahulu] 3:1..

Ini berat, kamu ga akan Kuat, cari saham lain aja.. 😀 ^

 

PT Lippo Cikarang tbk., LPCK, Q3 2017

Rating Kualitas manajemen : D

Rating kualitas keuangan     : C

 

 

@dr_BramIrfanda

^ Bila anda memahami skenario di atas, maka anda bisa trading / investasi di LPCK dan keluar di saat harga sudah diatas.. Dengan manajemen yg seperti itu, LPCK tidak direkomendasikan bagi anda yang belum memahami skenario di atas, karena bisa membuat anda takut dan CL ketika terjadi lagi skenario semacam ini

utk update artikel melalui Telegram, silakan Join Irfanda Capital on telegram

Setiap minggu, kami akan menulis analisis saham fundamental emiten BEI dan akan mempostingnya di blog ini. Untuk MENDAPAT KIRIMAN EMAIL GRATIS UPDATE ARTIKEL TERBARU irfanda.id , silakan masukkan email anda ke form dibawah ini

Subscribe to Blog via Email

GRATIS! utk berlangganan gratis, Masukkan email anda di form dibawah ini, lalu klik link konfirmasi berlangganan yang kami kirim ke email anda

Tagged: , , , , , , , , , ,

Comments: 2

  1. pedagang teri May 2, 2018 at 8:55 pm Reply

    2000 sudah murah pak dokter?

  2. victor wilson May 3, 2018 at 3:39 pm Reply

    luar biasa pak!

Leave a Reply