IPO Saratoga Investama Sedaya : Analisa Bisnis | BIA #6

Saratoga Capital (PT Saratoga Investama Sedaya) akan melakukan IPO, Bagaimana Analisis IPO Saratoga? Bagaimana Analisis Saham Saratoga?

PT Saratoga Investama Sedaya Tbk yang sering disebut Saratoga Capital adalah perusahaan Private Equity terbesar di Indonesia.

Saratoga didirikan oleh Edwin Soeryadjaya dan Sandiaga Salahuddin Uno di tahun 1998. Saat ini perseroan telah memiliki kepemilikan yang siginifikan di ADARO (ADRO), TOWER BERSAMA Infrastructure group (TBIG) dan PT Mitra Pinasthika Mustika (MPMX), yang merupakan 3 emiten besar yang mencatatkan diri di BEI.

Saratoga merupakan sebuah Private Equity yang unik, dimana perseroan mempunyai strategi yang berbeda dibanding Private Equity lain kebanyakan, dimana Perseroan masih memegang kepemilikan yang signifikan di Investee Company-nya yang telah IPO.

Hingga prospektus IPO Saratoga diterbitkan, perseroan telah memiliki penyertaan secara langsung dan tidak langsung pada 12 Entitas Anak, 23 Entitas Asosiasi, dan 9 Instrumen Keuangan.

Saat ini Saratoga memfokuskan diri pada tiga sektor utama yakni sumber daya alam, infrastruktur dan produk serta jasa konsumen.

Saratoga saat ini memegang kepemilikan saham dalam 15 Investee Companies (perusahaan dimana Saratoga berinvestasi), dimana 9 diantaranya sudah listing di Bursa Saham, dimana ada 4 perusahaan listing di BEI, 3 perusahaan listing di Bursa Australia (ASX), dan 2 lainnya di Bursa Singapura (SGX)

Menurut kami, Untuk menganalisis kinerja saratoga tidaklah tepat untuk hanya meneliti Laporan Laba Rugi yang dilansir perseroan. Laporan Laba Rugi yang dilansir perseroan, hanya menunjukkan kinerja beberapa anak Usaha perseroan, terutama penyumbang terbesarnya yakni PT Tri Wahana Universal (TWU) yang berkontribusi sebesar 93% dari total pendapatan Saratoga. Sedangkan kinerja anak usaha dan investee Company lainnya harus kita teliti satu persatu, demi mengetahui seberapa baik kinerja investasi Saratoga.

Karena baru 4 anak usaha perseroan yang mencatatkan diri di Bursa Indonesia, maka kinerja Saratoga hanya bisa Kita lihat dari kinerja keempat Investee Company nya ini, walaupun tentunya hal ini tidaklah tepat menggambarkan seperti apa Kinerja Saratoga secara keseluruhan.

Yang Kita analisis pertama kali adalah TBIG (TOWER BERSAMA INFRASTRUCTURE GROUP), Sebuah Perusahaan penyewaan Tower Telekomunikasi. Saat prospektus perseroan ditulis, TBIG merupakan portofolio terbesar yang dimiliki Saratoga. TBIG merupakan perusahaan yang didirikan sendiri oleh Saratoga pada tahun 2004. Ajaibnya, Saratoga dengan brilian bisa menjual mayoritas kepemilikannya di TBIG pada tahun 2010. Saat ini, total nilai kepemilikan portofolio Saratoga di TBIG adalah senilai Rp.8,5 Trilyun. Dilihat dari nilai pasar saat ini, TBIG merupakan salah satu investasi terbaik Saratoga, karena hanya dalam waktu 8 tahun, TBIG melipatgandakan modal yang ditanam oleh Saratoga sebanyak 8,9 kali lipat. Angka ini belum memperhitungkan keuntungan dari IPO serta deviden yang diterima Saratoga dari TBIG.

Portofolio terbesar kedua yang dimiliki Saratoga adalah ADRO (ADARO ENERGY). ADRO juga dibentuk pada tahun 2004, dan dalam waktu singkat (ajaibnya), bisa melakukan IPO di tahun 2008. ADRO adalah perusahaan energi terintegrasi Pertama di Indonesia. Saat ini portofolio Saratoga yang berasal dari ADRO bernilai Rp.4,3 trilyun. Dilihat dari nilai pasar saat ini, ADRO merupakan salah satu investasi terbaik Saratoga, karena hanya dalam waktu 6 tahun, ADRO melipatgandakan modal yang ditanam oleh Saratoga sebanyak 5 kali lipat. Angka ini belum memperhitungkan keuntungan dari IPO serta deviden yang diterima Saratoga dari ADRO.

Portofolio terbesar ketiga yang dimiliki Saratoga adalah dari kepemilikan sahamnya di MPMX (Mitra Pinasthika Mustika). MPMX adalah perusahaan terintegrasi yang bergerak di bidang otomotif khususnya distribusi sepeda motor Honda. Nilai Portofolio Saratoga di MPMX adalah sebesar Rp.3 Trilyun. Dilihat dari nilai pasar saat ini, MPMX merupakan salah satu investasi terbaik Saratoga, karena hanya dalam waktu 3tahun, MPMX melipatgandakan modal yang ditanam oleh Saratoga sebanyak 2,7 kali lipat. Angka ini juga belum memperhitungkan keuntungan dari IPO serta deviden yang diterima Saratoga dari MPMX

Portofolio terbesar keempat milik Saratoga adalah Provident Agro, sebuah perusahaan perkebunan Kelapa Sawit yang juga sudah listing di BEI. Nilai portofolio Saratoga dari kepemilikan sahamnya di Provident Agro saat ini adalah sebesar Rp.938 Milyar.

Dari keempat yang telah listing di BEI ini saja, sudah mencerminkan lebih dari 85% dari total portofolio milik Saratoga.

Namun, sebagai sebuah perusahaan yang Investasi yang dinamis, tentu saja nilai saratoga tidak boleh hanya dihitung dari kepemilikannya atas saham yang telah listing saja. Hal ini terjadi karena, Saratoga tentu sudah mempunyai ‘amunisi’ lain yang siap disulapnya -seperti halnya ADARO dan TBIG- menjadi perusahaan besar dan diperhitungkan di Indonesia.

Dari kinerjanya yang dapat dengan cepat mengubah perusahaan yang baru didirikan oleh Saratoga sendiri menjadi salah satu perusahaan terbesar di Indonesia -layaknya TBIG- atau mengubah Perusahaan kecil lain -sebagai contohnya adalah MPMX- menjadi perusahaan yang mampu listing di BEI hanya dalam tempo beberapa tahun, dapat Kita simpulkan bahwa Saratoga merupakan sebuah Private Equity yang hebat dan menyimpan potensi besar di masa mendatang.

Kinerja Bisnis : A

 

@DokterInvestasi

^ utk update artikel analisa saham melalui Telegram, silakan Join Irfanda Capital on telegram

Tagged: , , ,

Leave a Reply