Sudah menarikkah Harga Saham AISA sekarang? | BIA #63

Karena masalah Hukum di salah satu Pabrik berasnya, harga saham PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk., AISA  –sepak terjang AISA sudah kami bahas disini dan tentang manajemen AISA disini- , sudah Anjlok lebih dari 50% bila dibandingkan harga saham di awal juni 2017.

Pertanyaannya, Sudah menarikkah Harga saham AISA sekarang?

Mari kita telaah..

Dalam periode januari sampai awal juni 2017, harga saham PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk., AISA, bisa dibilang stabil di atas harga 2000/saham. Sejak awal Juni 2017 itulah, harga saham AISA terus menurun sampai menyentuh Tipping Point pada tanggal 21 Juli 2017. Pada hari itu, Harga saham AISA langsung kena ARB dan anjlok menjadi 1205/ saham. Hal ini terjadi setelah Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri malamnya melakukan penggrebekan di Gudang PT Indo Beras Unggul, salah satu anak perusahaan AISA yang bergerak dalam bisnis Branded Packed Rice khususnya merek Maknyuss dan merek Ayam Jago. Setelah itu, harga saham AISA masih saja terus menurun dan terakhir pada penutupan kemarin berada di posisi 925/saham

Penurunan harga saham AISA ini menurut kami wajar, mengingat Sama seperti APLN dan beberapa emiten lain yang sempat bermasalah dengan hukum, masalah seperti ini pasti akan menyeret bisnis AISA, minimal dalam jangka pendek. apalagi TPS Rice – divisi bisnis Beras AISA- menyumbang 61,28% dari total pendapatan AISA yang sebesar rp.6,55 Trilyun.
Bila akhirnya, TPS rice tidak boleh lagi melakukan bisnis Branded Packed Rice maka akan membawa akibat buruk bagi AISA dan pemegang sahamnya, karena bisnis Branded Packed Rice menyumbang 25% dari total penjualan TPS rice..

Baca juga :

 

Beberapa hal yang mungkin terjadi bila divisi Branded Packed Rice TPS Rice stop operasional :

  • Omset Penjualan AISA akan turun

Kontribusi penjualan TPS rice terhadap Total Penjualan AISA adalah 61%, maka bila TPS Rice distop produksinya, Total penjualan AISA secara kotor hanya menyisakan 39% atau bila kita menggunakan data penjualan 2016, hanya sebesar rp.2,54 trilyun. Wow!

Tentu saja skenario diatas adalah skenario terburuk yang kecil kemungkinannya terjadi. Bila dari TPS Rice itu, hanya Branded Packed Rice yang tidak berjalan – karena dari presentasi kasus POLRI, yang dipermasalahkan hanya beras bermerk dalam kemasan seperti Maknyusss dan ayam jago- maka bila kita menggunakan angka 2016, maka total penjualan AISA akan menjadi rp. 6 Trilyun saja, karena divisi Branded Packed Rice berkontribusi 25% atas penjualan TPS rice

‘Hanya’ turun rp. 0,5 Trilyun dari penjualan tahun 2017 atau 7,7 % memang tampak kecil, namun bila kita melihat besarnya hutang berbunga AISA, maka kita harus waspada

  • Aset TPS rice akan di write off

Bila produksi TPS rice dihentikan atau khusus divisi Branded Packed Rice dihentikan. Pasti ada mesin produksi, bahan kemasan, channel penjualan dll yang harus di hapus bukukan. Selain itu, bila ada persediaan yang disita oleh pihak POLRI, tentu saja bisa dimusnahkan. Hal ini tentu saja akan menekan laba AISA. Posisi persediaan AISA di Q2 2017 sebesar rp.2,12 Trilyun, anggaplah 5% dari persediaan itu akhirnya tidak bisa dipakai atau disita sehingga harus dijual rugi atau dihapus bukukan, maka kerugiannya sudah mencapai rp.100 Milyar. Hal yang harus ditekankan, harga jual Persediaan atau aset yang berhubungan dengan Branded Packed Rice akan jatuh karena saat ini semua perusahaan yang bergerak dalam bisnis beras Branded Packed Rice mengalami ketakutan yang sama, takut akan di gerebek oleh POLRI.

  • Laba AISA menurun

Selain persediaan dan Aset yang harus di jual rugi atau di hapus bukukan, kasus hukum yang menimpa PT IBU ini akan membuat konsentrasi manajemen AISA teralihkan untuk menangani masalah ini. Hal ini tentunya sangat menghambat perolehan penjualan AISA di 2017. apalagi, menurut laporan keuangan Q2 2017, baik penjualan maupun laba bersih AISA menurun biila dibandingkan periode yang sama tahun 2016. Adanya masalah hukum PT IBU, sepertinya akan membuat laba AISA tertekan oleh banyak sebab

  • AISA akan kesulitan membayar kewajiban jangka pendeknya

AISA mempunyai obligasi dan sukuk ijarah (sukuk) TPS Food I Perusahaan masing-masing sebesar Rp600 miliar dan Rp300 miliar yang akan jatuh tempo pada 5 April 2018. selain itu, AISA mempunyai hutang bank jangka pendek sebesar rp.2,08 Trilyun dan total hutang jangka pendek bersih 3,6 Trilyun. Dengan penurunan OCF dari bisnis beras dan besarnya tagihan hutang jangka pendek, sepertinya AISA akan dipaksa untuk gali lubang untuk tutup lubang lagi, atau yang paling ngeri, akan melakukan right issue lagi..

hufft..

dengan harga sekarang yang berada pada rp.925/saham, AISA mencatatkan kapitalisasi pasar sebesar rp. 2,98 Trilyun. Ini berarti AISA mencatatkan PBV 0,66 dengan PER 5,19. Tampak cukup murah bila kita melihat TPS food yang masih berjalan dengan baik.

Namun, perlu kita perhatikan bahwa DER AISA yang 1,2 sepertinya akan kembali naik karena masalah hukum diatas dan bila melihat manajemen AISA dari riwayatnya kurang memperhatikan pemegang saham retail, agaknya akan ada Right issue kembali, yang tentunya akan sangat mengecewakan..

Jadi, akan lebih aman bila anda masuk ke AISA diharga dibawah 800..

bagimana menurut anda?

 

@dr_BramIrfanda

^ utk update artikel analisa saham melalui Telegram, silakan Join Irfanda Capital on telegram

Setiap minggu, kami akan menulis analisis saham fundamental emiten BEI dan akan mempostingnya di blog ini. Untuk MENDAPAT KIRIMAN EMAIL GRATIS UPDATE ARTIKEL TERBARU irfanda.id , silakan masukkan email anda ke form dibawah ini

Subscribe to Blog via Email

GRATIS! utk berlangganan gratis, Masukkan email anda di form dibawah ini, lalu klik link konfirmasi berlangganan yang kami kirim ke email anda

Tagged: , , , , , , ,

Leave a Reply