Bisnis Taksi di Indonesia, Masih Menjanjikan? | BIA #32

Beberapa tahun terakhir, bisnis Taksi sedang mengalami masa booming..

Bagaimana tidak, pendapatan dan keuntungan bersih beberapa perusahaan taksi terbesar naik sampai lebih dari 20% dalam beberapa tahun terakhir..

Namun, apakah bisnis taksi di Indonesia masih menjanjikan di masa depan?

Ada beberapa indicator yang bisa kita jadikan petunjuk apakah bisnis Taksi di Indonesia masih menarik di masa depan, diantaranya :

Supply vs demand Taksi

Menurut BBC, angka ketersediaan Taksi di Jakarta di 2,65 per 1000 penduduk. Lebih tinggi daripada di New York yang berada di angka 1,6  dan di Hanoi yang berada di angka 2,2 per 1000 penduduk.

Namun angka ketersediaan taksi di Jakarta itu lebih rendah daripada di London yang tercatat di angka 2,8 , juga di kuala lumpur yang diangka 4,8 dan Singapore yang di angka 5,2 per 1000 penduduk.

Dua emiten Taksi terbesar di Indonesia juga menggunakan indicator jumlah taksi per 1000 penduduk untuk membandingkan ketersediaan (supply) taxi di Indonesia..

Namun menurut kami, hal ini kurang tepat karena seharusnya demand (permintaan) Taksi juga harus disesuaikan dengan tingkat kemakmuran suatu Kota..

Untuk itu, kami coba menghitung demand Taksi di Singapore dan Kuala lumpur sebagai acuan bagi kebutuhan taksi di Jakarta..

Pada tahun 2014, Kuala Lumpur mempunyai penduduk sekitar 6,900,000 jiwa, 33.000 taksi, dan pendapatan per kapita rp.275 juta/ tahun

Pada tahun 2014, Singapore mempunyai jumlah penduduk sekitar 5,500.000 jiwa ; 27,937 taksi , dan pendapatan per kapita Rp. 668 Juta/ tahun

Pada tahun yang sama, Jakarta mempunyai penduduk sejumlah sekitar 12,700.000 jiwa, 37.000 taksi, , pendapatan per kapita Rp.120 juta/tahun.

Dari variable jumlah penduduk dan angka pendapatan per kapita, kita dapatkan angka 1,5 : 1,9 : 3,7  yang berturut-turut untuk Indonesia, Malaysia ,dan Singapore. Angka ini bila kita masukkan ke jumlah taksi di Singapore akan ketemu jumlah taksi ideal per 1000 orang penduduk berturut-turut untuk Indonesia : Malaysia : Singapore = 2,1 : 2,7 : 5,2

Dari angka ini, bisa kita lihat bahwa kebutuhan Taksi di Jakarta masih kalah dibandingkan kebutuhan Taksi di Singapore maupun Kuala Lumpur.

Singapore kami jadikan benchmark karena selama ini taksi di Singapore secara luas direview baik karena bisa memberikan kenyamanan dan pelayanan yang baik, hal yang tidak mungkin terjadi kalau perusahaan taksi dan sopir taksinya mengalami masalah..

Kenapa bukan Kuala Lumpur? Taksi di Kuala Lumpur sendiri mengalami banyak masalah. Bahkan menurut BBC, sopir taksi di Kuala Lumpur sampai harus demo untuk membuat pmerintah mengurangi ijin taksi yang beredar karena net income yang diterima sopir taksi di Kuala Lumpur ‘tidak mencukupi untuk kehidupan sehari-hari keluarga’..

Dari benchmark jumlah taksi di Singapore, terlihat di kuala lumpur memang terjadi kelebihan taksi yang beredar (2,7 dibanding 4,8), akibatnya sopir taksi di Kuala Lumpur dikenal tidak ramah dan sering curang kepada penumpang.

Sedangkan untuk Indonesia, dengan menggunakan benchmark jumlah taksi di Singapore, terlihat di Jakarta ada sedikit kelebihan taksi yang beredar (2,1 dibanding 2,65). Namun, yang harus kita perhatikan sebagai variable pengganggu adalah adanya transportasi umum yang baik dan murah di Singapore dan kuala Lumpur, hal ini bisa menjadi ‘variabel pengganggu’ yang membuat kelebihan angka ideal jumlah taksi di Jakarta yang sedikit itu menjadi tak berarti..

Dari angka ini, kami berkesimpulan bahwa Jumlah taksi di Jakarta khususnya dan Indonesia pada umumnya masih wajar, dan masih bisa terus akan tumbuh beberapa tahun kedepan akibat meningkatnya Pendapatan per kapita dan jumlah penduduk yang tinggal di Jakarta..

Kondisi Ekonomi

Semakin tinggi tingkat pertumbuhan ekonomi, maka semakin tinggi pula tingkat pendapatan per kapita penduduk. Dan semakin tinggi pendapatan per kapita, kebutuhan akan Taksi akan makin besar, apalagi bila transportasi umum masih sedemikian buruknya seperti di Indonesia saat ini.

Menilik terpilihnya jokowi menjadi Presiden dan besarnya peluang bisnis di Indonesia, kami berkesimpulan bahwa kondisi ekonomi kedepan akan makin baik..

Transportasi umum

Transportasi umum adalah pesaing bisnis Taksi secara head to head. Di New York, kereta subway menjadi pesaing utama taksi disana karena ongkosnya lebih murah dan lebih cepat. Sayangnya, Hal yang sama tidak bisa kita jumpai di Indonesia. Monorel dan MRT belum ada setelah bertahun-tahun direncanakan, sedangkan busway juga belum bisa diandalkan.

Hal ini menjadi peluang besar bagi bisnis Taksi di Indonesia untuk memperluas pasarnya, sembari menyiapkan diri ketika transportasi umum yang baik dibangun oleh pemerintah

Persaingan antar perusahaan taxi

Seperti yang telah kami jabarkan di atas, Bisnis Taksi di Indonesia belum mengalami kejenuhan. Hampir semua perusahaan Taksi yang dikelola dengan akal sehat, bisa menambah jumlah armadanya dengan jumlah yang cukup banyak.

Hal ini merupakan Suatu peluang besar bagi manajemen perusahaan Taksi untuk mengembangkan bisnisnya..

Jadi, secara umum kami memandang bahwa bisnis taksi di Indonesia masih menarik dan menjanjikan, minimal sampai transportasi umum di Indonesia kondisinya membaik. Namun, tentu prospek ekonomi yang baik dari suatu bisnis, tidak menunjukkan semua perusahaan yang bergelut disana akan ikut meraih kesuksesan, karena semua tergantung bagaimana manajemen perusahaan itu merespon apa yang tengah dan akan terjadi di masa depan..

Bagaimana menurut anda?

 

@dr_BramIrfanda

^ utk update artikel analisa saham melalui Telegram, silakan Join Irfanda Capital on telegram

Agar makin MEMUDAHKAN ANDA MENGHASILKAN KEUNTUNGAN, Kami menyarankan Anda membaca SEMUA ARTIKEL TERKAIT dibawah ini, agar Anda mendapatkan kedalaman materi dan gambaran keseluruhan yang berhubungan dengan artikel diatas

Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Comments: 2

  1. Jangan tambah taxi lagi December 5, 2014 at 7:07 am Reply

    Kebanyakan taxi itu nantinya JD kumuh ky India. Ngajarin bisnis harus liat dampak kedepannya yaitu bikin macet, sopir taxi sok berkuasa d jalan dan mengganggu kenyamanan kendaraan lain. Harus di ingat ini Indonesia bung belum lg preman yg jd sopir taxi, Saya mengalaminya sendiri sampai 2x !! Rata2x yg jd sopir taxi karena terpaksa dengan kata lain bukan org yg pantas untuk mengemudi.

    • @dr_BramIrfanda December 30, 2014 at 7:14 pm Reply

      menurut saya (sy mungkins salah), kita tidak bisa menyamakan bahwa taksi di semua negara buruk pelayannnya pak..
      di negara lain, tak terkecuali di negara maju, taksi itu bisnis UKM. Hal ini sangat jauh berbeda dg di Indonessia yang pd umumnya tergolong bisnis besar. Taksi Blue Bird itu merupakan perusahaan taksi terbesar di dunia.

      Perusahaan besar tentu akan berusaha mengolah sedemikian rupa agar brand dan bisnis sustainable dan berkembang. karena itu sy berpendapat taksi di indonesia (terutama taksi besar spt blue bird) akan berbeda nasib dan pelayannnya dg taksi UKM di luar negeri. terimakasih atas pendapatnya 🙂

Leave a Reply